Sunan Kalijaga (1): Mantan Begal yang Menjadi Guru Suci Orang Jawa

Guru Suci Orang Jawa

Di kalangan pesantren maupun penganut Kejawen, Sunan Kalijaga dikenal sebagai al-Ghauts—yan berarti “pusat daya spiritual”. Peran ini dinarasikan dalam kisah Saridin dalam kepercayaan komunitas Sedulur Sikep, yang merupakan komunitas penganut Kapitayan di Nusat Tenggara Barat. Berawal dari narasi inilah akhirnya Sunan Kalijaga ditahbiskan sebagai Guru Suci Wong Tanah Jawi atau Guru Suci Orang Jawa.

Sunan Kalijaga mendapat gelar tersebut karena ajarannya dinilai sangat dekat dengan aliran tradisional—terutama Kapitayan, yang di masa kini disebut Kejawen. Dia juga mampu membangun kedekatan dengan penganut Hindu dan Buddha yang pada masa itu banyak dianut oleh kalangan ningrat. Dalam konsep mandala Majapahit—yang kemudian diadopsi oleh Demak—dia ditempatkan pada maqam Wisnu, yang berlatar warna wulung (hitam). Maqam tersebut identik dengan seorang pendakwah, pengkader, dan penyambung segala perbedaan.

Kekeramatan Sunan Kalijaga, salah satunya, diperingati dalam upacara kirab dan jamasan pusaka di Kadilangu, Demak, yang digelar setiap bulan Sela atau Zulhijah. Budaya Islam dan Jawa beriringan dalam seremoni tersebut, tanpa ada sedikit pun ganjalan. Kalangan pesantren dan penganut Kapitayan berbaur tanpa sekat. Mereka sama-sama ngalap berkah atau tabarukan dalam upacara tersebut.

Bacaan Lainnya

Sunan Kalijaga dikenal dekat dengan Kejawen karena dia adalah seorang yang mudah berakulturasi. Islam yang awalnya sangat asing bagi orang Jawa digubahnya menjadi agama dengan nuansa yang bisa diterima oleh orang Jawa. Sunan Kalijaga menawarkan keselamatan lahiriah kepada orang Jawa pada masa itu—sebuah bentuk keselamatan riil yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang.

Misalnya, dia mengajarkan doa yang diharapkan dapat melindungi seseorang dari berbagai gangguan yang mengancam keselamatan seseorang secara lahir.

Sri Rejeki dalam artikel bertajuk Dimensi Psikoterapi Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga menulis, Sunan Kalijaga berdakwah dengan cara pendekatan kultural. Maka dari itulah dia mendapat simpati dari masyarakat luas.

Dengan metode tersebut, secara pelan-pelan Sunan Kalijaga mampu membangun kelompok syariat-kultural—yang di masa kini dikenal dengan nama Islam Kejawen. Komunitas Islam Kejawen merupakan kelompok sosial yang berusaha melaksanakan ajaran agama lebih independen, terbuka, dan toleran. Kelompok ini berhasil membangun basis gerakan di relung–relung pedesaan dan pegunungan.

Pos terkait