Sunan Ampel (1): Arsitek Kerajaan Demak yang Menggagas Dakwah Berwajah Ramah

Meski banyak yang ingin memerangi Majapahit, yang dianggap belum Muslim, termasuk Raden Patah sendiri, namun sang guru, Sunan Ampel, tidak mengizinkan peperangan itu. Sang Sunan mengingatkan bahwa peperangan bukan karakter dakwah Islam yang diajarkan para wali.

Pandangan Sunan Ampel tersebut tercatat dalam naskah Serat Sajarah Demak (Kodeks BL Add 12313), yang artinya: Kangjeng Sunan Ampel berujar dengan tegas kepada Raden Patah yang memaksakan diri mau memerangi Majapahit: “Kamu, Raden Patah, janganlah bersikap demikian [negatif, sembrono] kepada ayahandamu sendiri. Apakah beliau pernah mencegah dan melarang orang-orang masuk agama Islam? Terlebih lagi, beliau telah membantu padaku, berupa pemberian dan fasilitasi sesuai yang aku harapkan, sehingga di Surabaya ini [pesantren Ampel yang difasilitasi Raja Majapahit] menjadi pusat peng-Islam-an penduduk. Apalagi kamu sendiri, Raden Patah: kamu sudah dikaruniai [dengan bantuan beliau, ayahandamu sendiri] sehingga ada sejumlah 10 ribu orang Bintara [Demak] yang ikhlas menerima dan masuk agama Islam. Apa ruginya bagimu, kalau sang raja, ayahandamu itu, belum masuk agama Islam? Apa pula salahnya kalau beliau belum memenuhi keinginanmu [masuk agama Islam]?! Jangan terlalu terburu-buru, jangan memaksakan diri, bersabarlah; dan terimalah apa yang sudah ditakdirkan Allah Swt.”).

Berdasarkan referensi ini, maka beberapa pandangan sejarawan yang menyebut bahwa Kerajaan Demak menyerang dan menghancurkan Majapahit itu jelas kurang tepat. Soal ini, Samudra Fakta akan membahas dalam tulisan selanjutnya: Sejarah Sesat Demak Menyerang Majapahit.

Bacaan Lainnya

Menurut buku Mazhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel, terbitan Pustaka IIMaN & FDK UINSA, 2021, Raden Rahmat diperkirakan wafat pada 1467 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. Kompleks makam Sunan Ampel berada di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya.

Kompleks makam Sunan Ampel di Surabaya. (Dok)

Haul Sunan Ampel berbeda dengan haul para ulama di Indonesia, yang biasanya dirayakan pada hitungan Hijriyah saat hari wafatnya. Haul Sunan Ampel diambil hari Jumat, Sabtu, dan Ahad pada akhir bulan Sya’ban. Biasanya dilaksanakan pada 2 atau 1 minggu sebelum Ramadhan. Oleh karena itu, setiap haul Sunan Ampel selalu berbeda tanggal setiap tahunnya, baik di Hijriyah dan Masehinya.[–bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

***Keterangan foto utama: Masjid Ampel, Surabaya.

 

Pos terkait