Sunan Ampel (1): Arsitek Kerajaan Demak yang Menggagas Dakwah Berwajah Ramah

Arsitek Kerajaan Demak

Sayyid Ali Rahmatullah juga terkenal sebagai arsitek utama Masjid Demak yang mulai dibangun pada 1479 M. Masjid Demak ini digunakan sebagai tempat berkumpul para wali dalam mendiskusikan bagaimana cara dakwah untuk masyarakat, terutama ketika berhadapan dengan adat istiadat yang dipegang teguh masyarakat sekitar. Selain itu, beliau merupakan salah satu arsitek berdirinya Kerajaan Demak. Peradaban Jawi-Nusantara tampak dalam Dawuh Kangjeng Sunan Ampel Denta kepada Raden Patah untuk buka hutan glagah wangi, Bintara, Demak.

Dalam Babad Cirebon aksara pegon (kode Br 36 PNRI Jakarta), halaman 33-4, yang ditulis oleh Penghulu Cirebon bernama Haji Abdul  Qohar di abad 18 dari bahan-bahan abad sebelumnya, lalu disalin-ulang  oleh santri Cirebon bernama Muhammad Nur di abad 19. Lalu dilatinkan dalam J.L.A. Brandes (editor), Babad Tjerbon: Uitvoerige inhoudsopgave en noten (VBG vol. 59) (Batavia: Albrecht & Co., 1911), hal. 78, dijelaskan tentang konstruksi peradaban Nusantara, salah satunya proses lahirnya Kerajaan Demak.

Bacaan Lainnya

Menurut buku tersebut, proses kemunculan Kerajaan Demak identik dengan unsur-unsur kejawian. Lalu, kerajaan itu tumbuh dan berkembang dalam kesatuan-totalitas ekonomi, sosial, kultural dan religius alam dan manusia-manusia Nusantara.

Perihal awal kelahiran Kerajaan Demak, buku tersebut mencatat: “Dikisahkan Raden Patah mengikuti petunjuk gurunya [Sunan Ampel di Surabaya], untuk menuju ke arah barat, ke daerah tempat tumbuhnya pohon gelagah yang wangi. Setelah hutan itu dibabat, muncul kemudian satu perkampungan dan desa yang  diberi nama Desa Bintara. Di sana Raden Patah kemudian mendirikan Shalat Jumat bersama para jemaah di Hari Jumat. Sehingga daerah itu dikenal dengan nama Pesantren Demak. Banyak orang kemudian pindah ke sana, mendirikan rumah dan perkampungan baru. Lama-kelamaan menjadi sebuah kota yang ramai, lalu menjadi pusat kerajaaan atau kesultanan”.

Proyek sosial-historis-religius berdirinya Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah itu menggambarkan totalitas kenusantaraan. Pembangunan wilayahnya dimulai dari babad alas atau membuka hutan Glagah Wangi untuk lahan pertanian dan pengairan. Ini merupakan tahap membangun basis ekonomi masyarakat.

Dari babad alas itu kemudian muncul perkampungan baru. Orang-orang pun mengungsi ke perkampungan baru tersebut, yang kemudian diberi nama Desa Bintara. Ini merupakan konstruksi basis sosial kemasyarakatan Islam Nusantara.

Setelah berdiri banyak rumah di Desa Bintara, pasar pun dibangun dan masjid pertama untuk shalat Jumat didirikan. Sebelum masjid berdiri, masyarakat menunaikan ibadah sehari-hari di langgar. Dari sinilah kemudian masjid menjadi pusat peradaban perkampungan itu, sekaligus menjadi pusat kegiatan keislaman. Ini adalah konstruksi basis  religiusitas masyarakat Nusantara, di mana masjid jadi jangkarnya.

Setelah basis sosial dan keagamaan berdiri, anak-anak pun butuh pendidikan. Raden Patah kemudian membangun pesantren. Namanya Pesantren Demak. Demak awalnya bukan nama sebuah kerajaan, tetapi nama pesantren.

Setelah perkampungan makin ramai, lalu dia menjadi kota atau arja. Sebutan kota atau arja waktu itu dipakai untuk menunjukkan posisi Demak sebagai titik penghubung lalu-lintas pergerakan manusia, dan juga sebagai salah satu jalur peradaban. Ini konstruksi kehidupan kosmopolit dan kebangsaan Nusantara. Setelah itu, baru kemudian Kota Demak menjadi datu, kerajaan, atau kesultanan dengan Raden Patah sebagai raja pertamanya.

Dalam Naskah Serat Sajarah Demak (Kodeks BL Add 12313) kolesi British Library di London, f. 11r, baris 10-14, terdapat ucapan Sunan Ampel tentang cara berdakwah yang benar kepada Raja Majapahit, dan dia menegur Raden Patah yang awalnya mau menggunakan cara paksa dan kekerasan kepada Majapahit.

Dalam naskah ini diceritakan secara lengkap bagaimana pertemuan antara Raden Patah dengan ayahnya, Raja Majapahit. Raden Patah meminta agar ayahnya masuk Islam dan meninggalkan nembah arca atau menyembah arca. Naskah tersebut juga merekam dialog antara Raden Patah dengan para Brahmana di Wilwatikta (Majapahit).

Naskah kropak ini tidak menyinggung sama sekali soal kekerasan atau pertumpahan darah dalam proses Islamisasi di Wilwatikta. Yang banyak dipotret adalah sebuah hubungan sosial-kultural. Disebutkan pula dalam naskah tersebut bahwa ketika terjadi geger atau huru-hara (pralaya) di Wilwatikta atau di Trowulan, hingga sang Raja Majapahit gugur dalam pralaya tersebut, sebagian orang-orang Majapahit mengungsi dan berlindung ke Demak, sebuah “krajan Islam”, untuk ikut Raden Patah, putra Brawijaya. Sebagian lagi lari ke Blambangan, termasuk putra Raja Brawijaya lainnya, Lembu Peteng. Dia lari hingga ke Bali bersama rombongan.

Sejak itu, segenap penduduk Majapahit masuk Islam, sebagaimana tertulis dalam Naskah Raden Patah, koleksi Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali,  lempir 11b: “Mangda ngranjing kawawengkon Demak, salanjurhipun ngranjing kawawengko Karajan Islam. Punika maka sami Pulo Jawa neda dok [w]awengka antuk Raden Patah, siwosan ring Blambangan, sinalih tunggil putrana Prabu Wilwatiktha sane”. Sementara Raden Kusen atau Husain, adik Raden Patah yang juga seorang panglima Majapahit, ikut masuk Islam mengikuti jejak kakaknya (sareng rakanida neng anutin Agama Islam).

Pos terkait