Sunan Ampel (1): Arsitek Kerajaan Demak yang Menggagas Dakwah Berwajah Ramah

 Silsilah Sunan Ampel

Ada dua sumber yang sangat lengkap tentang silsilah ini. Pertama, naskah Negarakerthabumi (Kodeks Sj9a-10/MNJBS) dari Wangsakerta Cirebon tahun 1695, koleksi Museum Sri Baduga Bandung, jilid 3, hal. 13-14. Naskah ini menerangkan silsilah Sunan Ampel sebagai berikut: Nabi Muhammad Saw. – Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Ali – al-Husain as-Sabti –  Zainal Abidin – Muhammad  al-Bakir – Japar Sadik – Ali  al-Uraidli (Kasim al Kamil) – Idris Al Muhammad an-Nakib – Isa al-Bakir – Ahmad al-Muhajir – Ubaidillah – Muhammad Alwi – Ali Al Gajam – Muhammad [Shahib Mirbath] – Alwi Amir Pakih [Ammul Faqih] – Abdul Malik – Abdullah Kanuddin – al-Amir Ahmad Syah Jalaluddin – Jamaluddin al-Husain – Ibrahim Asmara – Raden Rahmat Sunan Ampel.

Sedangkan versi kedua adalah naskah silsilah Syekh Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri, berupa satu halaman dari Giri yang disimpan oleh juru kunci makam Sunan Giri secara turun-temurun. Naskah ini menerangkan silsilah Sunan Ampel sebagai berikut: Nabi  Muhammad Saw. – Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Ali  – Sayyidina  al-Husain – Ali  Zainul Abidin – Muhammad  al-Baqir – Ja’far  ash-Shadiq – Ali  al-Uraidli – Muhammad – Isa – Ahmad al-Muhajir – Abdullah – Alwi – Muhammad – Alwi – Ali Khala’ Qasam – Muhammad Shahib al-Mirbath – Alwi – Abdul Malik – Abdullah – Ahmad Jalal Syah – Jamaluddin al-Husain [Syekh Jumadil Kubro] – Ibrahim Zainal Akbar – Raden Rahmat Sunan Ampel.

Kedua silsilah ini—silsilah Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri—bertemu pada nama Syekh Jamaluddin al-Husain, kakek Sunan Ampel.

Bacaan Lainnya

Sejarawan Nahdlatul Ulama (NU) Agus Sunyoto menjelaskan bahwa Raden Rahmat merupakan trah Singasari, dan masih keluarga Majapahit. Wali kelahiran Champa ini, menurut Agus Sunyoto, merupakan putra Syekh Ibrahim as-Samarkandi. Adapun ibunya, Dewi Candrawulan, merupakan putri Raja Champa.

Dari jalur ibu, Raden Rahmat masih memiliki darah Ratu Tapasi, yang juga saudari Raja Singasari Prabu Kertanegara (berkuasa 1268-1292 M). Catatan sejarah memperlihatkan Prabu Kertanegara menikahkan Ratu Tapasi dengan Raja Jayasingawarman III dari Champa. Pernikahan tersebut berkaitan dengan Ekspedisi Nusantara yang pernah dilakoni Prabu Kertanegara. Adapun bibi Raden Rahmat sendiri, Dewi Darawati, dinikahi Raja Majapahit Sri Prabu Kertawijaya (berkuasa 1447-1451 M).

Raden Rahmat sendiri menikah dengan putri cantik bernama Nyai Ageng Manila (Ni Gede Manila), anak perempuan Tumenggung Tuban. Dari pernikahan ini, Ali Rahmatullah dikaruniai empat buah hati, yaitu Putri Nyai Taluki yang bergelar Nyai Ageng Maloka; Maulana Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang); Syarifuddin (Sunan Drajat); dan Dewi Sarah.

Menurut beberapa catatan sejarah, Ali Rahmatullah memiliki dua orang istri. Yang pertama adalah istri yang dinikahi sewaktu perjalanan dari Tuban ke Kembang Kuning dan Wonokromo. Namanya Mas Karimah, putri Ki Wiryo Suryo atau Ki Wirajaya, atau lebih terkenal dengan julukan Ki Bang Kuning. Dari pernikahan ini, Ali Rahmatullah dikaruniai dua buah hati yaitu; Mas Murtosiyah dan Mas Murtosimah.

Dalam kitab Syaikh Abu al-Fadhol, Ahla al Musamarah fi Hikayat al Auliya al ‘Asyrah, dirangkaikan dengan buku Clara Kibby Nocholson, The Introduction of Islam into Sumatra and Java: A Study in Cultural Change, dijelaskan tentang dakwah Sunan Ampel di Majapahit, sebagaimana berikut:

Nama lengkap Sayyid Rahmat adalah Ali Rahmatullah. Ia lahir di Champa sekitar tahun 1401 M. Ali Rahmatullah menghabiskan masa kecil dan remaja di tanah kelahirannya. Negeri Campa ini, menurut sebagian ahli sejarah, terletak di Muangthai, yang sekarang dikenal sebagai Thailand. Kerajaan Champa pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam Tengah dan Selatan. Penguasaan itu diperkirakan berlangsung antara abad ke-7 sampai dengan 1832. Saat ini komunitas masyarakat Champa masih terdapat di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Pulau Hainan (Tiongkok). Daerah Campa meliputi area pegunungan di sebelah barat daerah pantai Indochina, yang dari waktu ke waktu meluas meliputi wilayah Laos sekarang.

Setelah usia Ali Rahmatullah genap 20 tahun, bersama Ali Murtadho (adik sepupunya) dan Abu Hurairah, ia diajak oleh sang ayah untuk berkelana ke tanah Jawa untuk menengok Martaningrum atau Dewi Andrawati. Di tengah perjalanan ke tanah Jawa, rombongan Ali Rahmatullah sempat singgah selama dua bulan di Palembang. Di sana mereka berhasil mengislamkan Adipati Palembang bernama Arya Damar. Setelah itu, Ali Rahmatullah dan rombongan melanjutkan perjalanan dengan kapal, singgah di Pelabuhan Jepara, hingga akhirnya sampai ke Tuban.

Saat itu ayah Ali Rahmatullah, Syekh Ibrahim al-Samarqandi, sakit hingga akhirnya wafat. Dia dimakamkan di Tuban, tepatnya di Desa Gresikharjo. Sepeninggalan ayah tercinta, Sayid Murtadho melanjutkan perjalanan untuk berdakwah keliling Nusa Tenggara, Madura, hingga ke Bima—sekarang di wilayah Nusa Tenggara Timur. Di sana dia mendapat gelar Pandita Bima. Berikutnya, Pandita Bima melanjutkan berdakwah di Gresik, dan sering disebut dengan Raden Santri. Raden Santri meninggal dunia dan dimakamkan di Gresik. Sedangkan Ali Rahmatullah seorang diri meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya, sebagaimana niat awalnya yang bertujuan menengok uwaknya, Dewi Dwarawati. Sayid Ali Rahmatullah diperkirakan datang ke Majapahit pada abad ke-15, atau tahun 1443 M. 

Ketika berada di pusat Kerajaan Majapahit, Ali Rahmatullah berhasil menyadarkan masyarakat Majapahit yang saat itu kondisinya sangat mengenaskan. Bupati-bupatinya pada suka mabuk, judi, dan memakan hasil pajak dan upeti yang seharusnya masuk istana Majapahit untuk berfoya-foya. Setelah berhasil menangani masyarakat Majapahit, Ali Rahamatullah tetap tinggal di Majapahit selama setahun.

Setelah beberapa saat di Majapahit dan menyelesaikan tugasnya di sana, Ali Rahmatullah diberi tanah di Ampel Denta, Surabaya. Sebanyak 3.000 keluarga diserahkan padanya untuk dididik. Ali pun mendirikan pemukiman di Ampel. Meskipun Raja Majapahit sendiri menolak masuk Islam, Ali Rahmatullah diberikan kemudahan dalam menyebarkan Islam kepada warga Majapahit, tanpa ada paksaan dalam bentuk apa pun.

Pos terkait