Alfiah, menurut Muhammad Teguh, tampak terharu dengan apa telah dilakukan Pak Dirman. Sebab, dalam keadaan serba sulit, Soedriman masih memperhatikan keperluan sang istri.
Selain bedak, Pak Dirman juga membelikan baju. Alfiah memeluk baju itu. Tercium wangi baju baru. Untuk beberapa saat, dia hanya bisa terdiam. Kehabisan kata-kata. Ketika Soedirman mengusap pipinya. Alfiah tak kuasa untuk tidak menitikan air mata.
Sudirman memeluknya. “Kau senang, Bu?” tanya Soedirman.
Alfiah tak menjawab, hanya mengangguk. Tangannya sibuk menyeka air mata.
“Gusti Allah juga menganugerahi kita anak-anak. Lalu, kau menghabiskan seluruh waktu untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga. Penghargaan apa yang sepantasnya kau terima? Tetapi kalaupun ada, tampaknya aku tak akan sanggup mengabulkannya,” kata Soedirman kepada istrinya.
“Aku menghabiskan seluruh waktu untuk anak-anak dan rumah tangga, tetapi Bapak menghabiskan seluruh waktu untuk bangsa dan negara. Maka, kalaupun ada penghargaan yang aku terima, aku akan serahkan penghargaan itu kepadamu, Pak. Sebab tugas dan tanggung jawab bapak jauh melampaui kemampuan bapak sendiri. Aku masih bisa istirahat di antara waktu anak-anak istirahat, tetapi bapak hampir tak bisa istirahat di antara waktu para prajurit istirahat,” papar Alfiah—sebagaimana dikutip dalam buku Alfiah & Soedirman: Kisah-kisah Romantis Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana Soedirman dan istrinya, Alfiah, saling berbagi peran dalam rumah tangga sesuai kodrat masing-masing.
Cinta Soedirman-Alfiah mulai tumbuh sejak sama-sama sekolah di Wiworo Tomo, saat Soedirman menjadi sekretaris himpunan siswa, dan Alfiah bendaharanya.
Bagi Jenderal Soedirman, di antara hal-hal penting dalam pertemuan laki-laki dan perempuan dalam membangun institusi keluarga, yang paling utama adalah menciptakan ketenangan dan ketentraman, menutupi rahasia, dan menjaga diri dengan bagian dan perannya masing-masing.
Keteguhan dan kekerasan hati seorang Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam membela bangsa dan negaranya kian mengkristal menjadi sikap hidup, karena di belakangnya ada seorang perempuan yang sabar dan telaten.
Dukungan istri itulah yang menjadi ‘booster’ Jenderal Soedirman untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seratus persen dengan segala cara, termasuk dengan menempuh perang gerilya—sebuah strategi yang membuatnya diingat sebagai salah satu sosok paling berjasa bagi Indonesia.*





