“Baju dan bedak, Bu. Soalnya, kalau ada serangan udara, semua toko bakal tutup,” ujar Soedirman, seraya membuka bungkusan. Lalu, baju dan berkotak-kotak bedak itu diserahkan kepada Alfiah.
Alfiah, sebagaimana digambarkan Muhammad Teguh, tercengang. Kaget campur senang.
“Buat apa bedak sebanyak itu?” tanya Alfiah lagi,
“Biar bagaimanapun, Ibu harus tetap terlihat cantik,” terang Soedirman.
“Tapi satu dus saja bisa untuk sebulan lebih, Pak,” ujar Alfiah, seraya menyeka sudut matanya.
Alfiah, menurut Muhammad Teguh, tampak terharu dengan apa telah dilakukan Pak Dirman. Sebab, dalam keadaan serba sulit, Soedriman masih memperhatikan keperluan sang istri.
Selain bedak, Pak Dirman juga membelikan baju. Alfiah memeluk baju itu. Tercium wangi baju baru. Untuk beberapa saat, dia hanya bisa terdiam. Kehabisan kata-kata. Ketika Soedirman mengusap pipinya. Alfiah tak kuasa untuk tidak menitikan air mata.
Sudirman memeluknya. “Kau senang, Bu?” tanya Soedirman.
Alfiah tak menjawab, hanya mengangguk. Tangannya sibuk menyeka air mata.
“Gusti Allah juga menganugerahi kita anak-anak. Lalu, kau menghabiskan seluruh waktu untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga. Penghargaan apa yang sepantasnya kau terima? Tetapi kalaupun ada, tampaknya aku tak akan sanggup mengabulkannya,” kata Soedirman kepada istrinya.
“Aku menghabiskan seluruh waktu untuk anak-anak dan rumah tangga, tetapi Bapak menghabiskan seluruh waktu untuk bangsa dan negara. Maka, kalaupun ada penghargaan yang aku terima, aku akan serahkan penghargaan itu kepadamu, Pak. Sebab tugas dan tanggung jawab bapak jauh melampaui kemampuan bapak sendiri. Aku masih bisa istirahat di antara waktu anak-anak istirahat, tetapi bapak hampir tak bisa istirahat di antara waktu para prajurit istirahat,” papar Alfiah—sebagaimana dikutip dalam buku Alfiah & Soedirman: Kisah-kisah Romantis Panglima Besar Jenderal Soedirman.






