Antonius Benny Susetyo, Pr. atau biasa disapa Romo Benny mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra Medika, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu dini hari (5/10/2024) pukul 00.15 WIB, di usia 55 tahun. Dia pergi meninggalkan banyak jejak perjuangan toleransi.
Romo Benny pulang ke Rumah Bapa dan memungkasi ‘layanan’ di dunia, setelah menghadiri kegiatan diskusi yang diadakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), bertajuk “Kerapuhan Etika Penyelenggara Negara dalam Berbangsa dan Bernegara: Kedaulatan Sumber Daya Alam,” di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, pada Rabu, 3 Oktober 2024.
Toleransi Antar Umat Beragama dan Pancasila dalam Tindakan Nyata
Romo Benny dikenal tekun menyuarakan pesan damai dan harmoni antar umat beragama. Di tengah mengecambahnya narasi intoleransi, dia bersemangat menebar kasih Tuhan sebagai penawar yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, seluruh anak bangsa perlu menguatkan pentingnya kesadaran akan keberagaman dengan berusaha menghormati perbedaan. Melalui akar sejarah dan budaya yang kaya, seharusnya masyarakat sudah memiliki tradisi yang kuat akan hal ini.
“Bangsa ini sudah biasa dalam cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berhubungan dengan menghargai perbedaan. Hal ini ditunjukkan ketika banyak masyarakat yang gotong-royong menyelenggarakan perayaan hari besar keagamaan secara bersama-sama. Sikap masyarakat kita yang cenderung mudah membaur inilah yang mempengaruhi perilaku saling toleransi,” katanya, dalam sebuah ceramah menyambut Natal dan Tahun Baru, Selasa, 26 Desember 2023.
Ia menilai, sikap toleransi yang merupakan budaya luhur bangsa Indonesia perlu terus dipupuk dan diperkuat. Dengan perilaku toleransi yang tinggi, ia yakin bangsa Indonesia pasti kebal dengan serangan paham radikal terorisme yang bertujuan ingin memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Paham radikal terorisme, kata Benny, sejatinya tidak mengenal agama. Mereka hanya ingin menyebarkan ketakutan serta kebencian di antara manusia. Obatnya adalah kekuatan ajaran cinta kasih dan perdamaian dalam diri masing-masing individu selalu bisa melahirkan optimisme dan suka cita. Cinta kasih adalah fitrah kehidupan manusia.
“Kita semua diciptakan untuk saling mencintai dan mengasihi, tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, atau latar belakang lainnya,” katanya.
Menurut Romo Benny, keragaman dan kemajuan di Indonesia sebenarnya tidak pernah mengalami masalah yang berarti. Sayangnya, gesekan antar kelompok masyarakat seringkali disebabkan karena para elite politik yang memanipulasi perbedaan untuk kepentingan politik mereka.
Untuk mengatasi hal tersebut, lanjutnya, Pancasila dapat menjadi ideologi yang menyatukan segala perbedaan anak bangsa.
Hal ini dibuktikan dengan Indonesia yang terdiri dari 714 suku, etnis, dan ratusan agama serta budaya, tetapi semuanya dapat bersatu dalam naungan NKRI.
“Pancasila mampu menyatukan bangsa ini karena digali oleh Bung Karno dari bumi Indonesia. Pancasila akhirnya menjadi ideologi yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak, dan berelasi kita. Meskipun kita berbeda agama, keyakinan, suku, profesi, atau ideologi, kita dapat bersatu karena memiliki ikatan kebangsaan yang satu, yaitu Pancasila,” tutur Romo Benny.
Dirinya juga menilai bahwa kolaborasi antar umat beragama itu dibutuhkan. Kolaborasi ini tidak hanya untuk menjaga ketertiban umum dan rasa aman, tetapi juga untuk mewujudkan sila kelima Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Umat beragama dapat menghargai semua hari besar keagamaan karena di dalamnya terdapat kebajikan bagi semua. “Dalam beriman dan beragama, kita harus memiliki sikap belas kasih, cinta kasih, dan saling menghargai perbedaan. Inilah wujud dari toleransi di Indonesia,” katanya.
Menurut Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu jika tidak ada Soekarno-Hatta dan peran umat muslim (Ulama) Indonesia yang sudah rela menghapus 7 kata dalam Piagam Jakarta pada Sila pertama tidak akan seindah ini.
“Imajinasi Soekarno-Hatta itu luar biasa dan juga jika tidak ada jasa tokoh besar umat muslim, Kiai Hasyim Asy’ar, Ketua Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo, mungkin kita tidak seindah ini, dan itu kita harus catat jasa terbesar umat muslim, demi menjaga persatuan mereka rela mencabut 7 kata itu yang harus kita ingat”, ucapnya saat menjadi narasumber pada talkshow di kanal youtube Padasuka Tv Kamis, 25 Maret 2021.
“Kita diikat oleh Pancasila, dasar kita berpijak. Dengan bersama menebarkan cinta kasih dibawah naungan Pancasila,” papar Romo Benny.
Sahabat Gus Dur
Antonius Benny Susetyo, Pr lahir 10 Oktober 1968. Dia dilahirkan di kota Apel Malang pada 10 Oktober 1968, Alumni Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang tahun 1996 ini merupakan seorang pastor muda pengusung gerakan moral bangsa.