MABBIM Gelar Musyawarah Perdana Secara Daring

Diplomasi Bahasa
Musyawarah Sekretariat Ke-28 Majelis Bahasa Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia (MABBIM), yang digelar secara daring. (Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah)

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Musyawarah Sekretariat MABBIM digelar secara virtual. Ketua MABBIM Indonesia sebut forum ini sebagai “dapur utama” diplomasi bahasa tiga negara serumpun.

Musyawarah Sekretariat Ke-28 Majelis Bahasa Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia resmi digelar secara daring, Senin (22/6/2026). Ini menjadi kali pertama dalam lebih dari lima dekade sejarah MABBIM forum tersebut diselenggarakan secara virtual.

Ketua MABBIM Indonesia Hafidz Muksin menegaskan, forum ini merupakan ruang strategis menjaga diplomasi bahasa antarnegera. Meski jarak membatasi fisik, agenda kerja sama kebahasaan tetap berlangsung.

Bacaan Lainnya

“Forum ini merupakan panggung penting untuk merajut kembali tali komitmen, memperdalam ikatan persaudaraan, serta memperpanjang estafet kerja sama kebahasaan,” ujarnya.

Hafidz menyebut Musyawarah Sekretariat sebagai dapur utama organisasi yang menempati posisi krusial. “Ini adalah ruang perumusan garis depan,” tegasnya.

Adaptasi Digital demi Bahasa Serumpun

Sekretaris MABBIM Indonesia Dora Amalia menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang memperkuat komitmen bersama. Penyelenggaraan virtual menjadi bukti kolaborasi mampu beradaptasi dengan zaman.

“Melalui pertemuan ini, mari kita tunjukkan bahwa kolaborasi yang telah terjalin erat selama puluhan tahun mampu beradaptasi dan tetap produktif,” katanya.

Sejak dikukuhkan pada 1972, MABBIM menjadi sarana diplomasi budaya yang memastikan bahasa serumpun terus berkembang sebagai bahasa ilmu, budaya, dan komunikasi.

Sekretaris MABBIM Malaysia, Mohd Riduwan bin Wahab, menekankan tantangan era digital menuntut inovasi berkelanjutan. “MABBIM perlu terus bergerak seiring perubahan zaman dengan memperkukuh kerja sama serta memastikan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia kekal relevan,” pungkasnya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan