Si Jenius R.M.P Sosrokartono [3]: Penasihat Spiritual Sukarno, Mandor Klungsu, dan Joko Pring Si ‘Peramal’ Jitu

R.M.P. Sosrokartono di usia senja. FOTO: Buku "R.M.P. Sosrokartono: Sebuah Biografi" (1987)

Seorang pembantu pun membantu menjelaskan perkataan Sosrokartono. “Saya merasa kecewa, Bung Karno yang sudah lama ditunggu tidak kunjung datang, padahal banyak hal yang perlu disampaikan,” kata Sosrokartono, sebagaimana ditirukan oleh pembantunya.

“Katakan kepadanya, Nak,” kata Sosrokartono, sebagaimana ditirukan oleh pembantunya—yang dicatat oleh Soeharto, “bahwa kita masih memerlukan perjuangan yang lama sebelum Indonesia merdeka terwujud. Sedangkan perjuangan itu sering diwarnai dengan kekacauan, pertengkaran, dan jatuhnya banyak korban. Namun, akhirnya Indonesia merdeka terwujud juga. Ya, ya, saya akan membantu, tetapi Karno mesti eling terus.”

Bacaan Lainnya

Selanjutnya Sosrokartono berkata, “Maaf, jika saya tadi berbicara dengan keras. Selamat, selamat.”

Pembantu Sosrokartono pun memberi isyarat bahwa Soeharto dan Abdurachim sudah bisa mengundurkan diri.

“Kata Jawa ‘eling’ secara harfiah berarti ‘ingat’,” Soeharto menafsirkan pesan Sosrokartono. “Tapi, dalam pengertian ketuhanan, kata itu bermakna ‘sadar akan kodratnya sebagai hamba Allah’, karena itu wajib mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”

Setiba di Jakarta, Soeharto menyampaikan pesan dan nasihat Sosrokartono kepada Sukarno. Dan, sebagaimana diucapkan Sosrokartono, sejara Indonesia mencatat bahwa negara benar-benar harus berjuang mempertahankan kemerdekaan dari tahun 1945 hingga akhir 1949.◼︎

Pos terkait