Si Jenius R.M.P Sosrokartono [3]: Penasihat Spiritual Sukarno, Mandor Klungsu, dan Joko Pring Si ‘Peramal’ Jitu

R.M.P. Sosrokartono di usia senja. FOTO: Buku "R.M.P. Sosrokartono: Sebuah Biografi" (1987)

Misalnya, pada tahun 1940-an dia pernah meramalkan bahwa Asia dan Afrika akan bersatu-padu di Bandung, Jawa Barat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1955, ‘ramalannya’ terbukti ketika Kota Bandung menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika.

Sosrokartono juga pernah mengingatkan Bung Karno ketika Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaannya. Peringatan tersebut disampaikan kepada dokter Soeharto, dokter pribadi Sukarno.

Bacaan Lainnya

Dalam memoar Saksi Sejarah, dokter Soeharto mengisahkan, setelah Indonesia merdeka, , pada akhir Agustus 1945, Sukarno menugaskannya untuk menemui Sosrokartono.

“Atas nama saya menghadaplah ke beliau (Sosrokartono) di Bandung, dan mohonlah petunjuk serta nasihat bagi cita-cita Indonesia merdeka,” kata Sukarno, sebagaimana dicatat Soeharto dalam bukunya.

Soeharto memahami perintah tersebut karena dia tahu hubungan Sukarno dan Sosrokartono itu seperti murid dan guru. Sebagai murid, Sukarno—menurut Soeharto—sangat menghormati Sosrokartono sebagai gurunya.

“Mungkin banyak pemikiran, kata-kata, dan tindakan yang diungkapkan dan dijalankan oleh Bung Karno bersumber pada gurunya itu,” kata Soeharto.

Sebelum berangkat ke Bandung, Soeharto mampir ke rumah Abdurachim, guru spiritual Sukarno lainnya. Abdurachim memiliki tempat pengobatan bernama Darul Annam di Petojo Selatan, Jakarta. Soeharto bermaksud menyampaikan tugas yang diberikan oleh Sukarno kepada Abdurachim.

”Tidak usah khawatir, Dik. Saya ikut ke Bandung. Anggaplah perjalanan malam ini sangat istimewa. Mari kita berangkat sekarang,” demikian respons Abdurachim terhadap kabar perintah yang dibawa Soeharto. Mereka pun berangkat ke Bandung pukul 23.00 WIB.

Sepanjang perjalanan, mobil mereka berapa kali dihentikan serdadu Jepang bersenjata bayonet dan barisan rakyat yang membawa bambu runcing. Tapi, akhirnya mereka tiba dengan selamat menjelang Subuh.

Begitu tiba di rumah Sosrokartono, mereka seolah-olah sudah ditunggu. Pembantu Sosro mempersilakan keduanya masuk. Sementara Sosrokartono sendiri sudah duduk di dipan besar berkaki rendah.

Soeharto pun mengemukakan maksud kedatangannya. Namun, belum selesai dia mengatakan semuanya, Sosrokartono sudah menyahut dengan berbicara cepat. Soeharto tak bisa menangkap apa yang dia bicarakan.

Pos terkait