Pengasuh Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, sekaligus Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, KH. Moch. Muchtar Mu’thi, juga pernah menafsirkan kata “Mandor” yang dipakai oleh Sosrokartono dalam salah satu ceramahnya.
Menurut Kiai Muchtar, kata “mandor” berasal dari bahasa Arab, “man” yang berarti “manusia”., dan “dor” yang berasal dari kata “daara-yaduuru”, yang berarti “bepertualang, berputar”.
Artinya, menurut Kiai Muchtar, Sosrokartono bukan jagoan kampung macam katak dalam tempurung. Hal tesebut terbukti ketika dia berani berkelana di Eropa selama sekitar tiga dasawarsa dan mendapat banyak manfaat di sana, yang menjadi bahan pembelajaran untuk anak-anak didiknya di Indonesia.
Joko Pring
“Joko Pring” merupakan nama samaran lainnya yang digunakan oleh Sosrokartono. Menurut catatan Suryopati, nama ini muncul dalam surat Sosrokartono bertanggal 11 Oktober 1931, saat ia berkunjung ke Sumatera untuk ketiga kalinya.
Istilah Joko Pring, dalam catatan Suryopati, juga memiliki penafsiran yang dikaitkan dengan ilmu dan laku Sosrokartono. Kata “joko” merupakan Bahasa Jawa yang berarti “jejaka”. Istilah ini merupakan gambaran bagi status Sosrokartono, yang sepanjang hidupnya hingga wafat memutuskan tidak menikah, alias jejaka.
Sedangkan “pring” berarti “bambu”. Dalam bahasa Jawa Krama—bahasa Jawa paling halus—“pring” disebut “deling”, yang dalam keroto boso atau tata bahasa Jawa dapat diartikan sebagai “kendel lan eling”, yang berarti “berani dan ingat”.
Sifat dan perilaku “deling” inilah, menurut Suryopati, ditunjukkan oleh Sosrokartono, misalnya, ketika dia dengan berani menyampaikan pidato yang berisi kritikan dan tuntutannya terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dalam Kongres Bahasa ke 25 di Gent, Belgia.
Sementara itu, menurut KH. Muchtar Mu’thi, pring yang tersemat dalam nama samaran Joko Pring yang digunakan oleh Sosro diartikan sebagai “peringatan”. Pasalnya, beberapa kali Sosrokartono telah menyampaikan peringatan tentang peristiwa yang bakal terjadi.
Menurut penelusuran Samudra Fakta, ditemukan beberapa catatan dan sumber yang membuktikan Sosrokartono pernah meramalkan beberapa kejadian yang pada akhirnya benar-benar terjadi.





