Suharti wafat pada usia 86 tahun. Di balik nama dan dua logo ayam gorengnya, tersimpan perjalanan usaha keluarga serta kepedulian kepada kampung halaman.
Rumah makan di Jalan Laksda Adisucipto Nomor 208, Yogyakarta, menjadi rumah duka. Pada Sabtu, 31 Oktober 2026, para pelayat datang melepas Hj. Suharti.
Radar Jogja melaporkan keluarga, kerabat, dan pelanggan mendatangi tempat tersebut. Pendiri Ayam Goreng Suharti itu meninggal pada Jumat malam, setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit.
Di tempat yang selama ini dikenal melalui hidangannya, keluarga mengumumkan kehilangan dengan sebutan yang lebih dekat: ibu dan eyang.
“Dengan penuh duka, kami sekeluarga mengabarkan bahwa telah berpulang ke Rahmatullah Ibunda dan Eyang Tercinta, Hj.Suharti.”
Pernyataan keluarga melalui Instagram @ayamgorengsuhartiofficial itu dikutip Liputan6.com, 31 Oktober 2026. Suharti wafat pada usia 86 tahun, pukul 23.21 WIB.
Namanya meninggalkan jejak yang mudah dikenali: ayam goreng Kalasan, kremesan, dan wajah perempuan berkebaya pada logo restoran. Namun, riwayatnya tidak berhenti pada daftar menu.
Ia juga meninggalkan kisah tentang pengetahuan memasak yang diwariskan, usaha yang tumbuh dari perdagangan keliling, serta keluarga yang meneruskan bisnis dengan dua identitas.
Resep Keluarga Menemukan Nama Sendiri
Riwayat yang ditelusuri Kompas.com pada April 2023 menempatkan Suharti dalam keluarga Mbok Berek. Sang nenek lebih dahulu dikenal melalui usaha ayam goreng.
Laporan itu merujuk arsip Harian Kompas pada 1977. Suharti mempelajari pengolahan bumbu di rumah makan neneknya sebelum menjajakan ayam goreng sendiri.
Keterampilan dapur menjadi bekal awal. Akan tetapi, mempunyai hubungan keluarga dengan pemilik usaha terkenal tidak otomatis menyediakan pelanggan bagi usaha baru.
Riwayat tersebut menyebut Suharti mulai berdagang keliling pada 1956, dibantu ayahnya. Ia membawa ayam goreng dengan sepeda dan bakul, sebelum usahanya berkembang menjadi rumah makan.
Peralihan itu mengubah cara berjualan. Pedagang keliling mendatangi pembeli; pemilik rumah makan harus membuat pembeli bersedia datang dan kembali.
Yang berpindah bukan hanya tempat transaksi. Resep keluarga mulai memperoleh alamat, papan nama, dan identitas yang dapat dikenali pelanggan di luar lingkungan asalnya.
Setelah menikah dengan Sachlan pada 1961, Suharti mengembangkan usaha bersama suaminya. Laporan sejarah mencatat perdagangan keliling berlanjut sebelum mereka memiliki tempat usaha permanen.
Sumber-sumber berbeda dalam menyebut tahun pembukaan rumah makan. Sebagian mencantumkan 1970, sedangkan kanal promosi Ayam Goreng Suharti menggunakan 1972 sebagai penanda perjalanan usahanya.
Perbedaan itu tidak perlu ditutup dengan tanggal yang dibuat pasti. Yang terlihat ialah pertumbuhan bertahap: dari keterampilan memasak, perdagangan keliling, kemudian rumah makan.
Daftar gerai pada kanal resmi kini mencantumkan sejumlah lokasi di Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Bali. Nama yang dahulu dibawa bersama dagangan keliling telah menjangkau berbagai kota.
Dua Logo, Satu Riwayat Keluarga
Perjalanan berikutnya melahirkan pertanyaan yang bertahan lama di antara pelanggan: apa perbedaan Ayam Goreng Suharti dan Ayam Goreng Ny. Suharti?
Keduanya membawa nama yang serupa, tetapi memiliki tanda pengenal berbeda. Yang satu memakai potret Suharti; yang lain memakai gambar ayam.
Perbedaan itu berakar pada pemisahan usaha keluarga. Dalam penjelasan yang dikutip detikFood, Titik Syahlan mengisahkan ibunya ingin membangun usaha mandiri setelah persoalan dengan suaminya.
Riwayat yang dimuat Warta Ekonomi, 31 Oktober 2026, menyebut Suharti membuka kembali usaha di Semarang pada Oktober 1991.
Potret dirinya kemudian menjadi identitas usaha tersebut. Wajah bersanggul dan berkebaya itu membedakan bisnis yang ia bangun dari jenama dengan gambar ayam.
Bagi sebuah rumah makan, logo membantu pelanggan mengenali gerai. Dalam kisah Suharti, logo sekaligus menyimpan babak perubahan pengelolaan usaha.
Namun, menyebutnya kehilangan seluruh harta atau memulai tanpa sumber daya apa pun memerlukan bukti tambahan. Perpisahan usaha tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh aset berpindah tangan.
Penjelasan keluarga juga memberikan gambaran lebih hati-hati daripada kisah dua merek yang akhirnya disebut bersatu.
“Tapi setelah bapak meninggal, sekarang manajemennya sebenarnya sudah dikelola semua oleh anak-anaknya.”
Pernyataan Titik itu berasal dari unggahan keluarga pada 16 Mei 2026, yang diberitakan kembali detikFood pada 31 Oktober.
Keluarga menyebut usaha tersebut diteruskan tujuh anak kandung Suharti dan Sachlan. Kedua nama tetap digunakan; pengelolaan oleh keturunan yang sama tidak otomatis berarti peleburan perusahaan.
Dengan demikian, dua papan nama itu lebih tepat dibaca sebagai cabang perjalanan keluarga yang sama. Keduanya tidak perlu dipaksa menjadi kisah perseteruan tanpa akhir ataupun perdamaian korporasi.
Kepergian yang Diceritakan Anak
Di luar sejarah bisnis, keterangan anaknya memberikan gambaran tentang masa terakhir Suharti. Titik Nurhayati menyampaikan ibunya mengalami stroke sekitar dua tahun sebelum meninggal.
“Keluar-masuk rumah sakit. Terakhir kondisinya drop dan baru empat hari masuk ICU.”
Titik menyampaikan keterangan itu kepada Radar Jogja di rumah duka, 31 Oktober 2026. Suharti sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.
Keterangan tersebut menjelaskan konteks perawatan terakhir berdasarkan penuturan keluarga. Ia tidak perlu diperluas menjadi diagnosis medis yang tidak diumumkan.
Jenazah Suharti kemudian dimakamkan di makam keluarga di Bendan Candisari, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Lurah Tirtomartani Indra Gunawan mengonfirmasi pemakaman kepada detikJogja.
Bendan Candisari merupakan kampung asalnya. Setelah namanya menempuh perjalanan melalui jaringan rumah makan, tempat itulah yang menjadi tujuan terakhir.
Di sana pula terdapat bagian warisannya yang tidak dijual dalam kotak makanan dan tidak tercantum pada papan restoran.
Sebidang Tanah di Dekat Makam Keluarga
Indra mengenang Suharti sebagai warga yang tetap memperhatikan kampung halaman. Menurut dia, Suharti mewakafkan tanah untuk permakaman warga ketika merayakan ulang tahun ke-80.
“Secara sosial beliau senang membantu warganya.”
Indra menyampaikan kenangan tersebut kepada detikJogja, 31 Oktober 2026. Tanah wakaf itu berada tidak jauh dari makam keluarga, meskipun keduanya merupakan lokasi terpisah.
Ia menyebut luas tanah yang diwakafkan lebih dari 2.000 meter persegi. Menurut keterangannya, lahan tersebut telah dimanfaatkan masyarakat.
Di hadapan kisah pertumbuhan restoran, detail itu memberikan ukuran warisan yang berbeda. Ada pelanggan yang mengenal Suharti melalui kremes; ada warga yang menerima manfaat melalui tanah.
Keduanya tidak harus dipertandingkan. Usaha membuat namanya dikenal di luar Yogyakarta, sementara pemberian untuk kampung halaman memperlihatkan hubungan yang tetap dijaganya.
Setelah pemakaman, nama Suharti masih dapat dijumpai pada papan rumah makan. Di Bendan Candisari, jejaknya juga tinggal pada sebidang tanah yang dapat digunakan warga.***





