Awan duka dari Kalibata. Nyai Hj Mahfudhoh Aly Ubaid berpulang. Membawa darah juang pendiri NU, kiprahnya membentang dari bilik pesantren hingga Senayan. Mari mengenang jejak abadi sang “Jimat” Muslimat NU yang tidak lekang oleh zaman.
Awan duka menyelimuti kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, tatkala kabar kepergian itu tersiar pada Minggu (4/10/2026) malam. Nyai Hj Mahfudhoh Aly Ubaid, putri pertama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah, mengembuskan napas terakhirnya tepat pukul 22.25 WIB di ibu kota.
Kepergian Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini sontak menorehkan kesedihan mendalam bagi warga nahdliyin dan bangsa Indonesia.
Keluarga kemudian membawa jenazah almarhumah pulang ke Jombang untuk dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, pada Senin sore. Sang tokoh berpulang, meninggalkan warisan keteladanan yang tidak akan lekang oleh pergantian zaman.
Mewarisi Trah Ulama dan Darah Pejuang
Lahir di tengah gejolak masa penjajahan pada 12 Maret 1944, Nyai Mahfudhoh tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan pantang menyerah. Ia menyerap langsung keberanian serta kedalaman ilmu agama dari sang ayah, KH Wahab Chasbullah, berpadu dengan kelembutan budi sang ibu, Nyai Sa’diyah.
Catatan silsilah keluarga menunjukkan, aliran darah kepemimpinan almarhumah bermuara jauh hingga ke tokoh sejarah Nusantara, Jaka Tingkir atau Mas Karebet, keturunan Raja Brawijaya dari Majapahit.
Lingkungan masa kecil yang sarat kasih sayang namun kental disiplin kepesantrenan berhasil memoles karakternya menjadi organisatoris ulung sekaligus pengayom umat yang karismatik.
Sentuhan Keibuan di Balik Tembok Pesantren
Meski langkahnya merambah jauh hingga kancah nasional, Nyai Mahfudhoh tidak pernah menanggalkan akar santrinya. Sejak 1994, ia mendedikasikan waktu dan pemikirannya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Putri Lathifiyah 1 Bahrul Ulum.
Di sela-sela padatnya agenda di ibu kota, ia rutin menyempatkan diri pulang ke Jombang demi menengok para santri. Ia rajin mengevaluasi sistem pengajaran, menyuntikkan motivasi, hingga berdialog langsung dengan para wali santri.
Tangan dingin dan sentuhan keibuannya sukses mendidik ribuan santriwati yang tidak hanya mumpuni mendalami kitab kuning, tetapi juga tangkas mengambil peran strategis di tengah masyarakat luas.
Meretas Jalan di Panggung Organisasi dan Politik Nasional
Kiprah Nyai Mahfudhoh sukses mendobrak batas-batas tradisional perempuan pesantren. Berawal dari diskusi-diskusi intens bersama para tokoh perempuan NU, ia mantap menapaki jalur pergerakan dan memegang tampuk kepemimpinan sebagai Ketua Umum Fatayat NU pada tahun 1976.
Rekam jejak sosialnya yang cemerlang lantas mengantarkan almarhumah melangkah ke panggung politik nasional. Ia melenggang ke Senayan sebagai anggota MPR pada 1986, lalu melanjutkan pengabdian sebagai anggota DPR RI setahun kemudian.
Bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia mengemban berbagai posisi strategis, membuktikan bahwa perempuan santri mampu bersuara lantang dalam menentukan arah kebijakan negara.
Sang “Jimat” Muslimat yang Menjaga Denyut Nadi Bangsa
Dedikasi panjang tanpa pamrih itu membuat PBNU menganugerahinya penghargaan bergengsi sebagai Tokoh NU Pengabdi Sepanjang Hayat pada peringatan Satu Abad NU. Tak berlebihan pula ketika Presiden terpilih Prabowo Subianto menyematkan gelar “Jimat Muslimat NU” kepadanya.
Julukan tersebut bukan sekadar sanjungan, melainkan pengakuan jujur atas peran vital Nyai Mahfudhoh dalam memimpin riyadhoh kebangsaan—merapal doa-doa tulus untuk keselamatan para pemimpin dan keutuhan Indonesia. Ia menggerakkan ratusan ribu jamaah dengan pendekatan spiritual yang meneduhkan sekaligus aksi nyata yang memberdayakan.
Kini, sang jimat umat telah berpulang menemui Sang Khalik. Tugas sejarahnya di alam fana telah ia tunaikan dengan sangat paripurna. Kendati raga telah terbaring tenang di haribaan bumi Tambakberas, warisan semangat juang, kelembutan tutur kata, dan keteguhan prinsipnya akan terus bernapas dalam sanubari jutaan santri.
Selamat jalan, Nyai. Bakti dan untaian doamu akan terus menyirami jalan panjang perjuangan umat menuju keabadian.***





