Si Jenius R.M.P. Sosrokartono [1]: Nasionalis dan Guru Sejati yang ‘Dibegal’ Snouck Hurgronje

Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono muda. FOTO: Istimewa
Problematika Utang

Selain ‘membegal’ disertasi Sosrokartono, menurut sejarawan Aguk Irawan, Snouck juga membongkar aib Sosrokartono, terutama terkait utang-utangnya yang menumpuk. Snouck mengabarkan jeratan utang tersebut kepada keluarga Sosrokartono di Jepara, sehingga menjadi polemik di Jawa.

Surat-surat Roekmini, yang dimuat dalam buku Surat-surat Adik R.A. Kartini
(dikumpulkan oleh Frits G.P. Jaquet), (2005), menyinggung soal utang-utang Sosrokartono itu. Pada suratnya tertanggal 10 Agustus 1910, Roekmini menyebut tindakan Sosrokartono berutang itu sebagai “kelakuan yang buruk”.

Bacaan Lainnya

Adik Kartini ini menilai, kehidupan mewah sang kakaklah yang
menyebabkan Sosrokartono selalu kekurangan uang hingga berutang. Ia menduga Sosrokartono terlalu banyak bergaul dengan para pangeran dari Solo.

Elisabeth Keesing, dalam Betapa Besar pun Sebuah Sangkar: Hidup, Suratan dan Karya Kartini (1999) menyebut Sosrokartono bersahabat dengan seorang pangeran dari Pura Pakualaman. Pangeran itu menghabiskan waktu sembilan tahun di Belanda sebelum menempuh ujian kandidat di Delft.

Sosrokartono, yang bersahabat dengan pangeran-pangeran kaya, pun memaksakan diri hidup dengan biaya tinggi. “Persahabatan, terutama selama 10 tahun pertama, lebih banyak untuk kesenangan putra raja itu daripada untuk kesenangan Sosrokartono,” tulis Keesing.

sementara itu, terkait dari mana asal utang yang melilitnya, Sosrokartono pernah mengungkapkan kekesalannya kepada W. Sonneveld—yang pernah bekerja sebagai sekretaris dan direktur di Departemen Kehakiman Belanda pada 1916-1917—yang ia sebut sebagai sahabat keluarganya.

Sonneveld, kata Sosrokartono, meluluskan tuntutan beberapa kenalan terhadapnya. Karena itu, Sosrokartonopun terpaksa membayar biaya perkara gugatan utang-piutang kenalannya hingga tiga kali lipat.

“Tindakannya yang sewenang-wenang telah membawa akibat finansial yang fatal bagi saya dan keluarga saya,” tulis Sosrokartono tentang Sonneveld.

Sebenarnya banyak yang ingin membantu Sosrokartono melunasi utang-utangnya. Namun, Sosro selalu menolaknya.

Sebagaimana ditulis Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama RI, dalam buku Memoir, setiap ada orang yang bermaksud membayarkan utangnya, Sosrokartono selalu menolak dengan ungkapan yang sama secara berulang-ulang, “Utang itu adalah hartaku. Aku akan menyelesaikannya sendiri.” Tawaran pelunasan utang dari J. H. Abendanon, orang terdekat keluarga Sosroningrat—ayah Sosrokartono—pun ditolak.

Kisah penolakan tersebut ditulis oleh Hatta berdasarkan penuturan sahabatnya, Dahlan Abdullah, yang mengenal Sosrokartono. Masalah utang itu juga diduga sebagai salah satu halangan Sosrokartono tak pernah merampungkan disertasinya.

Perihal dugaan adanya keterkaitan utang dengan disertasi Sosrokartono tersebut, sebagaimana ditulis oleh Hatta, muncul dalam sebuah acara makan malam. Ceritanya, Sosro diundang dalam sebuah perjamuan makan malam kaum bangsawan pendukung politik etis di Hindia Belanda.

Sosrokartono digambarkan kerap berpakaian necis dan banyak bergaul dengan kaum bangsawan karena dia merupakan anak Bupatei Jepara.

Setelah acara makan berakhir, salah seorang yang hadir dalam jamun tersebut berkata, “Tuan Sosrokartono, kami mendengar Tuan sekarang banyak mempunyai utang. Apabila Tuan mau menyudahkan disertasi Tuan, kami bersama akan membayar utang itu.”

Mendapatkan tawaran tersebut, Sosrokartono melontarkan jawaban tak terduga, “Maaf Tuan-Tuan yang terhormat, utang itu ialah satu-satunya harta saya. Harta saya yang satu-satunya itu akan Tuan-Tuan ambil lagi dari saya?”

Para pembesar politik etis Belanda itu, sebagaimana ditulis Hatta, seketika tak berkata apa-apa. Jamuan makan pun langsung bubar.

Pos terkait