Si Jenius R.M.P. Sosrokartono [1]: Nasionalis dan Guru Sejati yang ‘Dibegal’ Snouck Hurgronje

Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono muda. FOTO: Istimewa
‘Dibegal’ Snouck Hurgronje

Sosrokartono lulus dari University of Leiden dengan predikat summa cum laude dan mendapatkan gelar doctorandus atau drs., setara dengan gelar sarjana Strata 1 sekarang. Dia juga menguasai 17 bahasa asing, antara lain Belanda, Prancis, Jerman, Mandarin, Jepang, Arab, Sansekerta, Rusia, Inggris, Latin, Spanyol, dan Yunani. Karena itulah Sosrokartono dikenal sebagai seorang poliglot.

Setelah lulus, Sosrokartono berniat melanjutkan ke jenjang doktoral di kampus yang sama, Universitas Leiden. Sayangnya, niatnya tersebut tak pernah terwujud. Salah satu penyebabnya adalah karena terlibat konflik dengan salah satu profesor Universitas Leiden, Profesor Cristiaan Snouck Hurgronje.

Bacaan Lainnya

Snouck kembali ke Universitas Leiden 1906—setelah menjalankan misi deislamisasi di Nusantara—dan menjadi pembimbing disertasi Sosrokartono.

Menurut Solichin Salam, dalam buku Drs R.M.P. Sosrokartono, Sebuah Biografi (1994), Sosrokartono bersitegang dengan Snouck Hurgronje pada tahun 1907, hingga Snouck ketika itu bersumpah: “Selama di sini saya masih berkuasa, Sosrokartono tak akan dapat menjadi doktor.”

Amin Singgih, penulis Drs R.M.P. Sosrokartono, Sarjono-Satrya Pinandita, mengutip ucapan yang sama dari Snouck Hurgronje. Amin mendapatkan informasi tersebut dari Profesor R.M.T. Wreksodiningrat (1848-1913) dan R.M. Soemitro Kolopaking, Bupati Banjarnegara (1927-1949) yang pernah sekolah di Belanda pada 1907. Keduanya mengaku mendengar langsung ancaman Snouck Hurgronje kepada Sosrokartono itu.

Hurgronje rupanya tidak suka dengan pidato Sosrokartono dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 pada 1899 di Belgia. Sosrokartono dianggap menyalahkan pemerintah negeri jajahan—termasuk Belanda—karena tak memperhatikan hak-hak kaum pribumi, termasuk hak untuk mempelajari bahasa Belanda demi membuka cakrawala pengetahuan mereka.

Selain itu, Snouck menganggap pemikiran Sosrokartono terlalu progresif karena dia menjunjung emansipasi, yang bertabrakan dengan pandangan kolonialis-konservatif Snouck Hurgronje.

Di sisi lain, Snouck sendiri tidak memiliki simpati sama sekali terhadap kaum bumiputera, seperti Sosrokartono, dan menganggap bahwa bumiputera adalah kaum yang lebih rendah, tidak sejajar dengan orang Belanda.

Snouck pun dituding sebagai penyebab tidak rampungnya disertasi Sosrokartono yang rencananya berjudul De Middel Javaansche Taal—yang jika diterjemahkan secara bebas berarti Bahasa Jawa Tengahan sebagai Bahasa Peralihan antara Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Jawa Baru.

Pos terkait