Si Jenius R.M.P. Sosrokartono [1]: Nasionalis dan Guru Sejati yang ‘Dibegal’ Snouck Hurgronje

Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono muda. FOTO: Istimewa

Temu menambahkan, Sosrokortono lebih senang mengambil peran di balik layar. Ia enggan dipublikasikan dan tidak mau dicantumkan namanya dalam buku sejarah.

“Beliau tidak mau terekspose dan lebih menyukai peran di balik layar. Beliau juga tidak mau ditulis dalam buku sejarah,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Setelah menolak tawaran Sukarno, Sosrokartono menyodorkan adik perempuannya yang saat itu sudah meninggal, Kartini, untuk dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional.

Sosro ketika itu telah membukukan surat-surat Kartini kepada dunia Eropa, dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Melalui buku tersebut, Sosro—melalui sosok Kartini—ingin menyampaikan pesan bahwa sebagian besar nasib bangsa Indonesia tergantung pada emansipasi wanitanya.

Dengan mengajukan nama Kartini sebagai Pahlawan Nasional, Sosrokartono sedang menggugah pemikiran Sukarno tentang potensi wanita Indonesia.

Sosrokartono mengangat Kartini setinggi-tingginyanya, dijadikan simbol kemajuan cara pandang terhadap potensi Wanita Indonesia. Sosro membuka pintu pengenalan dunia dan menjadikan adiknya sebagai penyampai pesan bahwa nasib bangsa ini ada pada pergerakan wanitanya.

Sosrokartono menyampaikan gagasan tersebut bahkan sebelum dunia memulainya. Eropa sendiri termasuk terlambat dalam hal memperjuangkan emansipasi wanita, yang baru dilakukan pada tahun-tahun 1950-an.

Gagasan ‘memviralkan’ Kartini, dengan demikian, bisa dikatakan muncul dari Kartono. Namun, Sosrokartono sendiri memilih jalan sunyi.

Sebagai penghormatan terhadap mendiang adik, Kartini, Sosrokartono bernazar bahwa ia harus mendirikan sekolah untuk warga bumiputera untuk mencerdaskan bangsa. Tujuannya agar bangsa ini tak lagi tunduk pada imperialisme dan kolonialisme. Namun, karena pengawasan Belanda yang sangat ketat waktu itu, ia tidak mendapatkan izin untuk mendirikan sekolah.

Sosrokartono tidak putus asa. Dia menemui tokoh pendidikan yang mendirikan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara, untuk mendiskusikan gagasannya. Dari situ Ki Hajar melihat semangat juang yang tinggi pada diri Sosrokartono dalam memperjuangkan pendidikan. Maka itulah Ki Hajar menunjuknya untuk menjadi guru sekaligus kepala sekolah di Taman Siswa cabang Bandung—atau Nationale Middlebare School.

Namun demikian, Sosrokartono tidak pernah menyebut dirinya sebagai guru, juga tidak pernah juga merasa mempunyai murid, walaupun banyak orang merasa berguru kepadanya. Baginya guru sejati—seperti yang sudah diucapkan dalam sebuah kata mutiara nasihatnya, dikutip dari buku Aksan, Ilmu dan Laku Drs. RMP.Sosrokartono (1995), adalah:

Murid gurune pribadi Guru, Muride pribadi pamulangane, Sengsarane sesami Ganjarane, Ayu lan arumi sesami. (Guru sang murid adalah pribadi murid sendiri, murid sang guru adalah pribadi sang guru sendiri, bahan pelajaran baginya adalah kesengsaraan dan penderitaan sesama, pahalanya adalah kebahagiaan semasa hidup).”

Sosrokartono sakit hingga mengalami kelumpuhan sejak 1942. Seorang jurnalis Indonesia pertama yang memotret kawah Gunung Kawi  dari atas udara tanpa menggunakan pesawat terbang, sekaligus seorang penulis anonim dengan kode “Bintang Tiga”, saat masih menjadi wartawan New York Herald Tribune, menulis:

“Si jenius rendah hati itu wafat pada usia yang 74 tahun, pada 8 Februari 1952, pada Jumat Pahing pukul 11.50 di rumah kontarakan Dar Oes Salam (Darus Salam), Jl. Pungkur nomor 19 Kota Bandung.” ◼︎bersambung

Pos terkait