Bekerja di Balik Layar, Tidak Gila Pujian
Menurut hasil penelitian Minanur Rohman Mahrus Maulana, dari Program Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (2017) Sosrokartono dapat disebut sebagai penyulut lentera nasionalisme Indonesia.
Selain cemerlang secara akademik, menurut Minanur, Sosrokartono juga memainkan peran aktif dalam pergerakan sosial di Belanda. Dia tercatat ikut berpartisipasi dalam pendirian Indian Vereeniging, yang lebih dikenal dengan Perhimpunan Indonesia.
Pergerakan itu dilanjutkan oleh teman-teman sekolahnya, seperti Mohammad Hatta di Rotterdam serta Sartono dan Iwa Kusuma Sumantri di Leiden. Meski ia pernah menjadi pemrakarsa Perhimpunan Indonesia, ketika pulang ke Tanah Air, Sosrokartono tidak bergabung dalam organisasi mana pun—termasuk Perhimpunan Indonesia yang dia prakarsai. Dia menggunakan caranya sendiri dalam memperjuangkan nasib bangsa.
“Seorang putra Indonesia yang pernah berjuang, menderita, dan mendapat kemenangan, yang sampai meninggalnya menggerakkan perbagai tenaga untuk kebahagiaan manusia dan kemegahan bangsa,” demikian Muhammad Yamin menyebutnya.
Kendati punya peran yang sangat besar terhadap bangsa Indonesia, Sosrokartono pernah menegaskan bahwa dia tidak ingin diagung-agungkan sebagai pahlawan—kendati sebenarnya dia sangat pantas untuk mendapatkannya.
“Aku jangan ditenar-tenarkan/dibesar-besarkan…biar masyarakat tahu dengan sendirinya,” tutur Sosrokartono, sebagaimana dikutip dari wawancara Muhammad Muhibbuddin dengan juru kunci ke-10 makam Sosrokartono di Kudus, Jawa Tengah, pada Senin, 26 November 2018.
Sosrokartono, sebagaimana dicatat berbagai dokumen, adalah tokoh penting dibelakang layar. Dia termasuk punya peran besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
Pada masa pasca-kemerdekaan, Sosro juga menjadi saksi rentetan sejarah perjuangan bangsa ini, termasuk menyaksikan hari lahirnya istilah Pancasila pada 1 Juni 1945 dan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.
Selama masa perjuangan kemerdekaan, Presiden pertama RI Sukarno diketahui sering datang ke Darussalam, Bandung, untuk berkonsultasi dengannya.
Menurut Juru Kunci Makam Sosrokartono di Kudus, Jawa Tengah,Temu Sunarto, sebagaimana dikutip dari joglojateng.com (10/11/2022), selepas Indonesia merdeka, Sosrokartono sempat ditawari oleh Presiden Sukarno untuk menjabat sebagai menteri dalam kabinetnya. Namun, dia menolak tawaran tersebut karena berpegang teguh dengan prinsip tasawuf makrifat.
“Rata-rata pejabat kan memburu harta dan jabatan. Karena Raden Mas Sosrokortono berpegang teguh dengan tasawuf makrifatnya, maka beliau memilih untuk menolak tawaran tersebut,” ujar Temu.

