Setelah Setoran Tambang Ilegal ke Kabareskrim, Terbitlah Rekening Fantastis Ajudan Sambo

Ferdy Sambo vs. Agus Andrianto
(Ilustrasi SF.)

Namun, Natsir enggan menerangkan apakah rekening yang diblokir itu milik Brigadir J dan Ferdy Sambo—yang berstatus tersangka dalam kasus ini. “Saya enggak bisa sebut namanya,” ujar dia. Natsir hanya menjelaskan bahwa pemblokiran itu didasari adanya transaksi mencurigakan serta permintaan dari aparat penegak hukum.

Natsir mengklaim, data dan hasil analisis yang dibuat oleh PPATK sudah cukup lengkap untuk ditindaklanjuti oleh penyidik. Sebab, data yang diberikan PPATK mencakup asal uang yang masuk ke dalam rekening, aliran dana keluar rekening, dan peruntukannya. “Cukup lengkaplah informasi yang disampaikan oleh PPATK dalam membantu proses penyidikan-penyidikan yang dilakukan oleh penyidik,” kata Natsir.

Namun demikian, penjelasan dari BNI bahwa uang Rp99,99 triliun itu bukan saldo di rekening Yosua tidak lantas membuat persepsi publik tentang kekayaan Sambo yang tak wajar—dan dititipkan ke anak buahnya—berubah. Mungkin uang sambo tidak sampai Rp99,99 triliun, namun tetap saja jumlahnya sangat besar, melebihi kewajaran kekayaan seorang mantan Kadiv Propam.

Bacaan Lainnya

Indikasi Perang Bintang Semakin Gamblang?

Informasi mengenai kekayaan tak wajar Ferdy sambo yang dititipkan ke rekening Yoshua ini menarik. Pasalnya, informasi tersebut muncul setelah Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan “menembakkan peluru” kepada Kabareskrim Agus Andrianto, dengan mengaku telah menerbitkan LHP terkait setoran penambang ilegal untuk orang nomor satu di Bareskrim tersebut. Sambo melontarkan pengakuannya pada Selasa (22/11/2022), sementara Hendra memperkuatnya dua hari kemudian, Kamis (24/11/2022).

Setelah Hendra mengeluarkan pernyataan Kamis siang, di hari yang sama, 24 November 2022, Irma Hutabarat mengunggah video yang membahas dokumen terkait uang Rp99,99 triliun di rekening Yosua. Setelah video beredar, Jumat (25/11/2022), Kabareskrim Agus Andrianto mengeluarkan pernyataan untuk menjawab tuduhan adanya aliran “uang koordinasi” pemain tambang batubara ilegal kepadanya.

Menurut Agus, keterangan satu orang—hanya dari Ismail Bolong saja—tidak cukup untuk membuktikan suatu perkara. Namun, dia tidak menjelaskan apakah benar menerima uang yang dimaksud Ismail Bolong atau tidak. Dia malah menuding Sambo dan Hendra sengaja mengalihkan isu dari kasus yang menjeratnya—mungkin salah satunya soal rekening tak wajar yang diungkap Irma Hutabarat.

Pos terkait