Menjawab kritik soal potensi pelanggaran hak asasi para pelaku kejahatan, Ki Enang mengajak publik untuk menggeser cara pandangnya. Kemanusiaan, kata dia, tidak bisa hanya diukur dari nasib para pelaku, tetapi harus melihat rasa aman puluhan ribu warga yang dirampas di jalanan setiap malamnya.
Bagi Ki Enang, keadilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat luas bisa hidup tanpa dihantui ketakutan. Ia pun menutup polemik ini dengan sebuah penegasan yang menohok soal siapa yang sebenarnya menjadi korban pelanggaran HAM.
”Dalam konteks HAM, semestinya dilihat dari sudut hak asasi masyarakat banyak yang terganggu oleh segelintir anggota masyarakat yang norak dan tidak tanggung jawab,” pungkasnya. ***





