Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menilai pernyataan mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj soal cawe-cawe Jokowi dalam kemenangan Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2021-2026 bersifat spekulatif.
__________
Gus Ipul menanggapi narasi yang berkembang belakangan, di mana mantan Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siradj menyebut Presiden ke-7 RI Joko Widodo alias Jokowi cawe-cawe dalam Muktamar PBNU di Lampung pada tahun 2021 silam.
Cawe-cawe itu, menurut Said, untuk menghalanginya menjadi Ketua PBNU periode 2021-2026. Pernyataan tersebut dia lontarkan dalam sebuah siniar Akbar Faizal Uncensored.
“Pak Jokowi tidak senang kalau saya terpilih lagi di NU. Maka di (Muktamar) Lampung semua itu diatur sehingga saya kalah,” ucapnya.
Said mengatakan dirinya tidak sebesar Gus Dur yang tetap menang meskipun telah diintervensi sedemikian rupa oleh Orde Baru dalam Muktamar ke-29 NU di Cipasung, Tasikmalaya.
“Gus Dur kuat, tetap menang. Saya tidak sehebat Gus Dur,” imbuhnya.
Dalam Muktamar NU di Bandar Lampung itu, Yahya Cholil Staquf menjadi pemenang pemilihan dengan raihan 337 suara dan resmi menjadi Ketua Umum PBNU periode 2021-2026. Sementara Said Aqil Siradj hanya memperoleh 210 suara.
Menanggapi narasi itu, Gus Ipul menilai, istilah “cawe-cawe” bersifat spekulatif dan multitafsir.
“Cawe-cawe itu hanya spekulatif. Semua yang memiliki kekuatan politik berpotensi untuk cawe-cawe,” kata Gus Ipul kepada wartawan, Kamis, 3 April 2025.
Dia mempertanyakan cawe-cawe seperti apa yang dimaksud dalam Muktamar ke-34 PBNU di Bandar Lampung pada Desember 2021 tersebut.
“Maksudnya cawe-cawe ini seperti apa? Ini sudah tiga tahun yang lalu (pemilihannya),” ujar Gus Ipul.
Cawe-cawe, menurut Gus Ipul, merupakan isu musiman yang terjadi setiap menjelang Muktamar PBNU. Dia menilai, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika politik dan bukan menjadi penentu kemenangan.
Dia mencontohkan saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang tetap terpilih menjadi Ketua Umum PBNU kendati diintervensi oleh kekuatan Orde Baru.
“Penentu kemenangan itu tidak tunggal. Cawe-cawe dari luar juga belum tentu menang kalau strateginya kalah,” kata Gus Ipul.
Dia pun memastikan bahwa pelaksanaan pemilihan Ketun PBNU dalam Muktamar Lampung 2021 berlangsung secara demokratis. Mekanisme pelaksanaan agenda tersebut, kata dia, sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam AD/ART organisasi.
“Pemilihannya demokratis, tergantung cara calon mendekati semua pihak,” kata Gus Ipul.
Dia juga menyatakan bahwa para calon yang bertanding juga sudah sepersetujuan dari Rais Aam PBNU.
“Kalau ada intervensi, kan bisa dilarang aja salah satu untuk maju oleh Rais Aam PBNU,” lanjutnya.
Isu soal adanya cawe-cawe pihak eksternal dalam pemilihan Ketua Umum PBNU, menurut Gus Ipul, merupakan hal yang biasa terjadi. Sebagai organisasi yang besar, dinamika politik semacam itu menurutnya adalah hal yang lumrah.
“Setiap muktamar, selalu ada saja isu cawe-cawe,” kata Gus Ipul.
Meski sering diterpa isu campur tangan orang luar dalam urusan internal organisasi, Gus Ipul menilai PBNU sudah memiliki mekanisme kuat untuk menghalau hal itu.
“PBNU punya mekanisme untuk menahan cawe-cawe pihak luar,” tandasnya.***





