Kiai Said Aqil Siradj: Pak Jokowi Tidak Senang Saya Terpilih Lagi di NU

Dokumentasi kegiatan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan mantan Ketum PBNU KH. Said Aqil Siradj. Said mengaku jika Jokowi tidak senang dia terpilih kembali sebagai Ketum PBNU di Muktamar Lampung. | Dok. Istimewa
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siradj menyatakan jika Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi tidak menginginkannya terpilih kembali sebagai ketua umum di Muktamar Lampung pada tahun 2021. Maka itu, dirancanglah skenario agar Said kalah.

__________

Sebagaimana diketahui, Muktamar yang berlangsung di tengah suasana pandemi itu menahbiskan K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai Ketum PBNU Periode 2021-2026. Said Aqil kalah dalam pemungutan suara.

Kiai Said menyampaikan pernyataan tersebut dalam siniar atau podcast di kanal Youtube Akbar Faisal Uncensored (AFU) yang diunggah pada 31 Maret 2025. Siniar itu mengangkat tajuk Said Aqil Siroj: Manipulasi Habib, Sejarah Islam Ekstrem, dan Cawe-cawe Jokowi di NU.

Bacaan Lainnya

Secara umum, siniar di akun Youtube dengan 1,5 juta subscriber itu menyorot tentang fenomena praktik keagamaan—terutama Islam—yang menurut pengampu obrolan maupun narasumber mengganggu kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Kiai Said diundang dalam kapasitasnya sebagai intelektual Islam di Indonesia yang dikenal dengan pandangan-pandangannya yang plural dan menghormati keanekaragaman.

Said pun menyampaikan pandangannya secara panjang lebar bahwa fenomena beragama di Indonesia ini kental dengan nuansa kepentingan politik—bukan kepentingan agama sebagai penuntun akhlak.

Said juga menyinggung fenomena beberapa penceramah yang mengklaim diri mereka sebagai habib—yang didefinisikan sebagai “keturunan” Nabi Muhammad Saw.—yang menurut dia malah tidak menguasai keilmuan Islam, namun diikuti oleh banyak kalangan.

Said pun menyimpulkan jika fenomena itu menunjukkan bahwa Islam di Indonesia ini, bagi kebanyakan orang, merupakan manifestasi kepentingan politik kekuatan massa. Dia juga menyinggung soal kedekatan ulama kepada penguasa, yang menyebabkan kalangan orang Islam yang berilmu kehilangan nalar kritis terhadap kekuasaan.

Ketika Akbar menyinggung tentang narasi yang menyebut PBNU di era kepemimpinan Said justru sangat dekat dengan penguasa, Pengasuh Ponpes At-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan itu memastikan bahwa itu tidak benar. Said mengeklaim bahwa dirinya selalu kritis kepada penguasa, baik itu di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Jokowi.

Pada bagian akhir siniar, Akbar Faisal menyinggung pemilihan Ketum PBNU di Muktamar Lampung. Dia bertanya: bagaimana cerita di balik layar dalam muktamar organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia itu?

Said menjawab: “Walhasil Pak Jokowi tidak senang kalau saya terpilih lagi di NU. Maka di Lampung, semua itu, yah, diatur, dan saya harus kalah.”

Pada bagian penutup, Said memperingatkan, “Ini catatan bahwa siapapun yang mempermainkan Nahdlatul Ulama, insyaallah ada balasannya.”***

Pos terkait