Pandangan senada disampaikan oleh Anggota Komunitas Militan Nahdliyyin lainnya, Luthfie Rahman. Kata dia, apabila PKB mengundang dan PBNU datang, maka kesan di mata publik akan manis. Perilaku politik semacam itu menciptakan kesejukan di hati masyarakat.
“Didatangi bisa manis kesannya, senajan (kendati—red) tetap pada posisi konstitusi masing-masing,” ucap Luthfie Rahman.
Anggota Komunitas Militan Nahdliyyin yang lain, Nur Khorion, menyorot kemungkinan menjadikan konflik panas antara PKB dan PBNU sebagai edukasi bagi generasi muda. Konflik apa pun, kata dia, memang sulit dihindari, sebagai watak bawaan manusia. Namun, mengubah konflik menjadi sesuatu yang mengandung hikmah, menurut Nur Khoiran, adalah perbutan baik.
“Kalaupun berkonflik, kok nggak dimanfaatkan bagi pendidikan anak-anak. Yang elok gitu ya,” katanya.
Komunitas Militan Nahdliyyin juga memandang agar segera diupayakan pertemuan langsung antara kubu PKB dan PBNU. Entah itu dengan memanfaatkan pemanggilan Ketum PKB ke Gedung PBNU ataupun undangan kepada PBNU untuk hadir di Muktamar PKB.
Pertemuan para elite semacam itu, menurut Mustafid dari Komunitas Militan Nahdliyyin, adalah langkah paling mungkin dilakukan baik oleh PKB maupun PBNU, untuk meminimalisir dampak destruktif turunannya.
“Jika tidak, maka korban yang paling dirugikan adalah warga NU. Atau minimal kiai-kiai sepuh NU yang tidak paham peta politik. Mereka potensial diarahkan,” kata Mustafid.
Sebagaimana diketahui, tensi perselisihan antara PBNU dan PKB terkesan kian tinggi. Pihak PKB mensinyalir bahwa PBNU menempuh beberapa langkah untuk mengambil kendali atas partai tersebut. Salah satu indikasinya adalah dengan memobilisir kiai-kiai sepuh memang sudah dipersiapkan sejak awal.
Pada Senin, 12 Agustus 2024, kiai-kiai struktural dan pengasuh pesantren NU berkumpul di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pertemuan tersebut dipimpin oleh tim Pansus PKB Anwar Iskandar dan KH Amin Said Husni.
Pertemuan Jombang menghasilkan dua kesepakatan. Pertama, PBNU dan PKB memiliki hubungan ideologis, historis, politis, organisatoris dan kultural. Kedua, para kiai meminta PBNU mengambil langkah strategis dalam rangka perbaikan PKB.





