Menurut Hasil Riset, Banyak Warga RI Usia 15 Tahun yang Terjebak Utang

Ilustrasi remaja dan jeratan utang. (Foto: chancemcgheelaw.com)
Sebuah hasil riset mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia usia 15 tahun saat ini sudah terjebak utang. Kondisi ini mencerminkan pola konsumsi yang tinggi di kalangan generasi muda, yang seringkali terjadi tanpa adanya pemahaman terhadap manajemen keuangan.

Menurut data yang dilansir Nihon Keizai Shinbun (Nikkei) pada 9 Desember 2024, ada 137 juta masyarakat Indonesia berusia 15 tahun yang memiliki utang. Nominalnya menyentuh angka Rp66 triliun pada September akhir.

Mengacu pada angka tersebut, Nikkei, yang mengutip Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mencatat jika jumlah utang pinjol masyarakat RI meningkat selama lima tahun terakhir—dari sebelumnya 18,6 juta peminjam dengan total utang sebesar Rp13,16 triliun pada 2019.

Nikkei adalah lembaga ekonomi terbesar di Jepang. Mereka menerbitkan surat kabar The Nikkei yang berbasis di Jepang—harian bisnis terbesar di dunia dalam hal sirkulasi—juga menerbitkan dua publikasi internasional.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, menurut Institute for Development of Economics dan Keuangan (INDEF), peningkatan utang ini disebabkan oleh kemerosotan ekonomi pasca-pandemi.

“Peningkatan tajam ini terjadi ketika banyak orang, terutama di kelas menengah, berjuang menghadapi kemerosotan ekonomi pasca-pandemi, sambil mempertahankan tingkat pengeluaran yang diperlukan sebelum pandemi,” kata Pengamat Ekonomi INDEF Izzudin Al Farras, Selasa, 10 Desember.

Pinjaman ini terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan persentase 80 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Menurut Farras, banyak pengguna pinjaman online masih buta finansial, sehingga tidak memahami cara kerja kredit dan bunga.

“Pengguna hanya fokus pada jumlah, yang mereka pikir akan mereka terima tanpa memahami tanggung jawab dan risiko pinjaman mereka,” katanya.

Maka dari itu, Asosiasi Fintech (Aftech) Indonesia pun menyarankan perlunya meningkatkan literasi keuangan.

“Aftech menyadari pentingnya menjaga pertumbuhan harus diselaraskan dengan literasi keuangan tentang penggunaan yang bijak, perencanaan keuangan, dan kesadaran akan risikonya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Aftech, Firlie Ganinduto, Selasa, 10 Desember 2024.***

Pos terkait