Dengan adanya banyak kesamaan itulah, Wali Songo memutuskan untuk menyebarkan Islam sembari meminjam istilah-istilah lokal yang sudah melekat di masyarakat yang mayoritas merupakan penganut Kapitayan. Wali Songo mencari kesamaan-kesamaannya, tanpa menghapuskan istilah-istilah yang telah melekat di masyarakat.
Para wali tetap menggunakan sanggar sebagai tempat ibadah. Hanya saja, untuk membedakan dengan konsep Kapitayan, mereka menambahkan mihrab sebagai pembeda dan mengubah namanya sedikit, dari “sanggar” menjadi “langgar”. Hingga saat ini, beberapa istilah ritual atau sarana peribadatan peninggalan Kapitayan masih lestari dan menyatu dalam agama Islam, seperti istilah sembahyang (sembah-Hyang), puasa (upawasa), pitutur (nasihat), pidato (pi-dha-Tu) mulang (mengajar menyampaikan ilmu pengetahuan), dan pidana (pi-dana).
Ajaran Kapitayan ini “ditunggangi” oleh Wali Songo untuk menyebarkan Islam. Upaya mendakwahkan Islam sembari “terkoneksi” dengan ajaran Kapitayan ini menjadi salah satu faktor yang mendukung penyebaran Islam bisa berlangsung secara damai dan cepat di era Wali Songo.
Haidar Bagir dalam tulisannya, Islam dan Budaya Lokal dalam Perspektif Irfan (2), menyatakan bahwa bercampurnya unsur ajaran Islam dan budaya lokal tersebut—yaitu budaya Kapitayan—tidak mengubah substansi ibadah. Artinya, akulturasi budaya tidak mengubah syariat. Sedangkan menurut KH. Said Aqil Siradj, dalam bahasa agama Kapitayan adalah nihlah, atau sistem keyakinan yang konsep teologisnya masih belum sempurna.
Menurut Dr. Muhammad Nursamad Kamba, doktor tasawuf alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Islam yang tiba di Nusantara di masa-masa awalnya masih berupa software, sehingga kemudian kompatibel dan di-instal dalam nihlah bernama Kapitayan. Maka dari itu, jadilah Islam di Nusantara yang kita kenal sekarang ini.
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengatakan bahwa manusia Nusantara—seperti penganut Kapitayan—sebenarnya hampir bisa seratus persen mengetahui Tuhan. Pencapaian religiusitasnya tinggal sedikit lagi, di mana sisa yang sedikit itu harus Tuhan sendiri yang memberitahu manusia melalui Islam. Artinya, ketika religiusitas Nusantara bertemu dengan Islam, itu ibarat tumbu yang ketemu tutup. Ibarat botol yang menemukan tutupnya. Lengkap sudah.[…bersambung…]
(Wijdan | Dirangkum dari Berbagai Sumber)





