Memahami Kapitayan Membuat Dakwah Wali Songo Berjalan Mulus

Penganut Kapitayan percaya kepada Tuhan yang mereka sebut Sang Hyang Taya—yang memiliki makna suwung atau kosong. Tuhan, menurut ajaran Kapitayan, itu abstrak, tidak bisa dipersepsikan, impersonal, tak bisa digambarkan, dan tak bisa diperkirakan. (Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, 2017:14).

Leluhur Jawa kuno mendefinisikan Sang Hyang Taya dalam ungkapan Tan Kena Kinaya Ngapa, yang berarti “tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya”. Membawa makna “kosong”, “hampa”, dan “absolut tidak bisa diapa-apakan”. Dzat ini tidak ada tapi ada, tidak bisa dilihat oleh mata tetapi eksistensinya diyakini ada sebagai satu-satunya sumber kekuatan.

Konsep ketuhanan Kapitayan inilah yang oleh Wali Songo dinilai memiliki kesamaan substansial dengan konsep ketuhanan dalam Islam. Pemahaman penganut Kapitayan bahwa Sang Hyang Taya itu tan kena kinaya ngapa hampir sama dengan pemahaman Islam tentang Allah yang laisa kamitslihi syaiun, atau “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura:11).

Bacaan Lainnya

Karena Sang Hyang Taya gaib dan tak terjangkau indra, penganut Kapitayan berusaha mengenali Sang Hyang melalui sifat-sifat-Nya, yang mereka sebut “Tu” atau “To”. Upaya mengenal Tuhan ini juga dilakukan oleh umat Islam, di mana mereka berusaha mengenal Allah Swt. yang Mahagaib melalui sifat-sifat-Nya.

Menurut Agus Sunyoto, “Tu” atau “To” dalam konsep Kapitayan memiliki makna kebaikan dan ketidakbaikan sekaligus, di mana keduanya menyatu dalam satu Dzat. “Tu” yang baik disebut “Tu-han”, yang dikenal dengan nama Sang Hyang Wenang; sementara “Tu” yang bersifat tidak baik disebut “han-Tu”, yang kemudian mereka sebut dengan nama Sang Manikmaya. Sang Hyang Wenang dan Sang Manikmaya, menurut keyakinan penganut Kapitayan, menyatu dalam sifat Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Taya.

Sifat utama Sang Hyang Taya adalah gaib dan tidak terlacak oleh indra manusia. Untuk bisa berkorespondensi dengan Sang Hyang, dibutuhkan sarana yang dapat ditangkap oleh indra dan alam pikiran manusia. Berangkat dari gagasan tersebut, maka penganut Kapitayan meyakini bahwa sifat “Tu” atau “To” mempribadi dalam segala sesuatu yang memiliki nama-nama berunsur “Tu” dan “To”, seperti: wa-Tu (batu); Tu-rumbuk (pohon beringin); Tu-gu; Tu-lang; Tu-ndak (bangunan berundak); Tu-tud (hati, limpa); To-san (pusaka);  To-peng; dan To-ya (air).

Kekuatan Sang Hyang dipercaya ada di berbagai tempat. Maka dari itu, penganut Kapitayan mempersembahkan sesaji di tempat-tempat yang mereka yakini sebagai perwujudan Sang Hyang Taya, sebagai bentuk penghambaan mereka terhadap sesembahan. Ritual inilah yang oleh Barat dipahami sebagai aktivitas animisme dan dinamisme. Padahal, konsep peribadatan yang disalahpahami oleh Barat itu sebenarnya bertujuan untuk memohon kebaikan dan menolak keburukan, berdasarkan dua poros yang dipercayai dimiliki oleh Sang Hyang Taya.

Penganut Kapitayan juga mengerjakan ritual harian yang dilakukan di suatu tempat bernama “sanggar”. Bangunan ini memiliki empat atap (Tu-mpang). Penganut Kapitayan tidak mengenal konsep arca, patung, atau sejenisnya yang dibikin untuk disembah.

Pos terkait