Memahami Kapitayan Membuat Dakwah Wali Songo Berjalan Mulus

Gerakan ritual yang dikerjakan penganut Kapitayan di dalam sanggar hampir sama dengan gerakan shalat dalam Islam. Ritual dimulai dengan gerakan yang disebut tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap tu-tuk (lubang) dengan kedua tangan diangkat ke atas untuk menghadirkan Sang Hyang Taya ke dalam tu-tud (hati). Setelah merasa Sang Hyang hadir dalam hati, kedua tangan diturunkan di dada, tepat pada tu-tud (hati). Posisi ini disebut swadikep, yang berarti bersedekap untuk mendekap ke-akuan.

Proses tulajeg ini dilakukan dalam durasi yang cukup lama. Setelah tulajeg selesai, gerakan dilanjutkan dengan tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga relatif lama. Setelah itu dilanjutkan dengan posisi tu-lumpuk (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki), kemudian dilanjutkan dengan tondhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya). Semua gerakan ini mirip sekali dengan gerakan shalat dalam Islam: Tulajeg sama dengan gerakan berdiri; tungkul sama dengan rukuk; tondhem sama dengan sujud; dan tulumpuk sama dengan duduk di antara dua sujud atau tahiyat..

Penganut Kapitayan juga mengenal ibadah tidak makan mulai pagi sampai malam, yang mereka sebut upawasa. Ibadah ini sama seperti ibadah shaum dalam Islam—dan Wali Songo jelas menyadari itu. Penganut Kapitayan berpuasa dengan konsep dino pitu—atau puasa tujuh hari. Namun, dalam praktiknya, mereka hanya mengerjakan puasa di hari ke-2 dan ke-5 dalam sepekan, yang kemudian mereka anggap sama dengan puasa selama tujuh hari. Wali Songo pun meneruskan tradisi ibadah tersebut, namun disesuaikan dengan roh Islam yang mereka dakwahkan. Sebab, konsep upawasa dipandang memiliki kesamaan dengan puasa Senin-Kamis, di mana Senin adalah hari ke-2, dan Kamis adalah hari ke-5.

Bacaan Lainnya

Pos terkait