Demikian juga beberapa hari setelah Ied apabila masih ada suasana hari ‘ied yaitu berbagi kebahagiaan, senang dan saling mengunjungi dengan bertamu, maka lebih baik menunda beberapa hari dulu tidak puasa syawal.
Untuk keadaan tertentu, tuan rumah atau yang bertamu boleh membatalkan puasa sunnahnya untuk memuliakan dan membuat senang. Bahkan, membuat senang saudaranya itu sangat dianjurkan.
Idealnya, puasa Syawal memang dilakukan enam hari berturut-turut setelah Idul Fitri, yakni tanggal 2 hingga 7 Syawal. Kendati demikian, berpuasa di luar tanggal ini juga tetap memperoleh keutamaan puasa Syawal—yang pahalanya dipercaya sama seperti puasa wajib setahun penuh.
Puasa dapat dilakukan pada tanggal 2 hingga tanggal 7 Syawal secara berturut-turut atau setiap hari Senin dan Kamis, melewati tanggal 13, 14, 15, dan seterusnya, selama masih berada di bulan Syawal. Jadi, tidak diharuskan enam hari berturut-turut, atau pada tanggal 2 – 7 Syawal saja.
Selama puasa dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, maka keutamaan ibadah ini bisa tetap didapat oleh seorang Muslim.
Tidak ada paksaan dalam puasa sunnah. Membatalkannya tidak apa-apa, meneruskannya—apabila konteksnya memang memungkinkan untuk meneruskan—itu juga lebih baik.
Namun, perlu dicatat bahwa hukum membatalkan puasa seperti ini hanya berlaku bagi puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa Tarwiyah Arafah, dan lain sebagainya. Untuk puasa wajib—sebagaimana puasa di bulan Ramadhan—tidak ada pengecualian untuk membatalkan puasa, termasuk dengan asalan untuk menghormati tamu sekali pun.■





