Festival dan Rencana ke Depan
Selain “Kemis Mlipis”, Pemkot Surabaya juga rutin menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu yang diikuti para pelajar. Berbagai cabang lomba berbasis budaya dan bahasa Jawa turut diselenggarakan, mulai dari nembang, ndongeng, maca geguritan, karawitan, dhagelan tunggal, menulis cerkak, pidato, hingga menulis aksara Jawa.
Ke depan, Dispendik Surabaya berencana mengintegrasikan program pelestarian bahasa daerah secara lebih rapi dan sistematis, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler. Langkah ini ditempuh agar penggunaan bahasa daerah tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjelma menjadi bagian dari budaya belajar siswa sehari-hari.
“Melalui berbagai kegiatan ini, kami ingin anak-anak semakin mencintai bahasa dan budaya daerahnya,” pungkas Febri.***





