Rupiah melemah, tetapi mal dan coffeeshop tetap ramai. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang daya beli, gaya hidup, dan tekanan kelas menengah.
Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat sebagian masyarakat mengeluhkan tekanan ekonomi yang makin berat. Namun, di saat yang sama, pusat perbelanjaan, restoran, dan coffeeshop mahal tetap ramai pengunjung.
Kontras itu memantik percakapan luas di media sosial. Sebagian warganet mempertanyakan mengapa antrean kopi, restoran, dan tempat nongkrong tetap panjang ketika banyak orang merasa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja.
Fenomena tersebut kemudian dikaitkan dengan istilah lipstick effect. Dalam penjelasan sederhana, istilah ini menggambarkan perilaku konsumen yang menunda pembelian besar, tetapi tetap membeli barang atau pengalaman kecil untuk menjaga suasana hati.
Masyarakat mungkin menunda membeli rumah, mobil, atau liburan mahal. Namun, mereka tetap memberi ruang untuk belanja yang terasa lebih ringan, seperti kopi, makanan di restoran, produk perawatan diri, atau staycation singkat.
Apa Itu Lipstick Effect?
Istilah lipstick effect populer setelah Leonard Lauder, petinggi Estée Lauder, mengamati kenaikan penjualan lipstik di Amerika Serikat pada masa resesi 2001 setelah tragedi 11 September.
Dalam riset Daniel MacDonald dan Yasemin Dildar yang terbit di Journal of Behavioral and Experimental Economics, lipstick effect dibaca sebagai gejala ketika belanja kosmetik justru meningkat pada masa tekanan ekonomi. Studi itu menemukan adanya kenaikan pengeluaran kosmetik pada perempuan usia 18–40 tahun selama Resesi Besar.
Riset tersebut juga menunjukkan kenaikan belanja kosmetik bukan terutama didorong keinginan mencari pasangan atau mempertahankan pekerjaan. Penjelasan yang lebih kuat adalah substitusi: konsumen mengurangi belanja pada kategori lain, seperti pakaian, lalu memilih barang yang memberi rasa senang dengan biaya lebih kecil.
Dalam konteks hari ini, makna lipstick effect tidak lagi terbatas pada lipstik atau kosmetik. Ia meluas ke berbagai bentuk konsumsi kecil yang memberi rasa senang tanpa membutuhkan pengeluaran sebesar aset besar.
Antara Tekanan dan Gaya Hidup
Di Indonesia, fenomena ini dibaca berbeda oleh sejumlah ekonom. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia, Teguh Yudo Wicaksono, menilai lipstick effect dapat menjadi tanda kelas menengah sedang tertekan.





