Israel Membabi Buta di Hari Idulfitri: 15 Warga Sipil dan Pejabat Hizbullah Tewas

Perempuan Palestina memeriksa lokasi serangan Israel terhadap sebuah rumah, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan, 2 April 2025. Foto: SS Al Arabiya/Reuters
Israel memanfaatkan momen Idulfitri 1446 hijriah untuk kembali menggempur Gaza dan Beirut dengan serangan udara yang mematikan. Sedikitnya 15 warga sipil tewas dalam serangan di Gaza, sementara di Beirut, seorang pejabat senior Hizbullah dan putranya turut menjadi korban.

Israel memperluas serangan militernya di Gaza pada Rabu, 2 April 2025, mengklaim sebagai upaya untuk “menghancurkan” kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Serangan udara yang dilancarkan di Khan Younis dan kamp pengungsi Nuseirat menewaskan 15 orang, termasuk anak-anak, menurut laporan Badan Pertahanan Sipil Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pasukan Israel akan merebut “wilayah yang luas” di Gaza untuk membersihkan daerah tersebut dari kelompok bersenjata. Namun,  seperti dilaporkan Al Arabiya kebijakan ini menimbulkan kritik keras, terutama dari keluarga sandera yang khawatir operasi militer ini mengesampingkan upaya pembebasan tawanan.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak operasi militer Israel dilanjutkan kembali, lebih dari 1.042 orang telah tewas. Total korban jiwa sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023 kini mencapai lebih dari 50.399 orang, sebagian besar di antaranya adalah warga sipil. Situasi kemanusiaan semakin memburuk dengan kelangkaan bahan makanan dan air bersih akibat blokade ketat yang diberlakukan Israel sejak 2 Maret

Bacaan Lainnya
Pejabat Hizbullah Dibunuh

Tak hanya Gaza, Israel juga melancarkan serangan udara ke jantung ibu kota Lebanon. Pada Rabu, 2 Maret 2025, dini hari, rudal Israel menghantam sebuah gedung sembilan lantai di kawasan selatan Beirut, menewaskan Hassan Bdeir, seorang pejabat senior Hizbullah, bersama putranya, Ali Hassan Bdeir. Serangan itu juga menewaskan dua orang lainnya, termasuk seorang wanita.

Militer Israel seperti dilaporkan Arab News mengklaim serangan tersebut menargetkan anggota Hizbullah yang diduga merencanakan serangan terhadap warga sipil Israel. Namun, serangan ini langsung menuai kecaman dari pejabat Lebanon.

Presiden Joseph Aoun menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan negara, sementara Perdana Menteri Nawaf Salam menegaskan bahwa serangan ini melanggar Resolusi 1701 PBB.

Reaksi Dunia

Di tengah serangan yang terus berlangsung, upaya diplomasi tetap berjalan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengusulkan agar pemimpin Hamas meninggalkan Gaza dengan syarat mereka menyerahkan senjata, namun Hamas menolak tawaran tersebut. Sementara itu, Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat masih berupaya menengahi gencatan senjata dan negosiasi pembebasan sandera.

Pos terkait