JAKARTA—Di tengah konflik berkepanjangan di Gaza akibat invasi Israel, yang menyebabkan luluh lantaknya Palestina, sebuah prediksi yang pernah diucapkan oleh pemimpin perlawanan Palestina lebih dari dua dekade lalu menjadi harapan tersendiri: Israel segera menghadapi “kutukan 80 tahun” atau “kutukan dekade kedelapan”. Apakah itu?
Secara sederhana, yang dimaksud dengan “kutukan 80 tahun Israel” adalah usia negara ini tidak akan melebihi 80 tahun.
Pembicaraan mengenai kutukan ini bukanlah sesuatu hal baru. Pernah disampaikan oleh pendiri Gerakan Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, kepada Israel 24 tahun silam.
Pada 1999, Sheikh Ahmed menyampaikan prediksi mengenai keyakinan kutukan 80 tahun Israel dalam pidatonya. “Israel berada di ambang kehancuran dan akan berakhir pada kuartal pertama tahun ini, abad ke-21. Israel tidak akan bertahan pada tahun 2027,” kata tokoh perlawanan Palestina tersebut.

Jika dirunut ke belakang, terhitung sejak 1947 sampai 2023, konflik Israel-Palestina sudah berlangsung sekitar 75 atau 76 tahun. Negara Israel sendiri secara resmi didirikan pada 14 Mei 1948, setelah mandat Inggris di Palestina dan pendudukan tanah Palestina berakhir.
Menurut Sheikh Ahmed, keyakinan tentang kutukan Israel juga masih berkaitan dengan sejarah masa lampau negara tersebut, yang menunjukkan bahwa dua pemerintahan sebelumnya, yakni Kerajaan Daud dan Sulaiman, serta Kerajaan Hashmonayim, juga tidak bertahan lebib dari 80 tahun—sebagaimana tertulis dalam perjanjian Taurat.
Negara Yahudi pertama yang didirikan oleh Raja Daud, sebagaimana dijelaskan dalam Taurat, bertahan selama 80 tahun. Akan tetapi, pada tahun ke-81, terjadi konflik internal sehingga kerajaan ini terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Yehuda dan Yisrael. Sejak itulah kejatuhan negara Yahudi era Raja Daud dimulai.
Negara Yahudi kedua adalah Kerajaan Hashmonayim, yang berdiri selama 77 tahun. Pada dekade kedelapan berdirinya, kerajaan ini mulai goyah akibat pertikaian, hingga akhirnya runtuh.
Kisah-kisah historis tersebut pada akhirnya menimbulkan semacam sugesti di kalangan orang Yahudi, di mana mereka khawatir bahwa pada ‘periode ketiga’ kerajaan ini—yang mereka klaim direpresentasikan oleh negara Israel—mereka juga bisa jadi akan bernasib sama dengan dua negara sebelumnya.
Tahun 2027 disebut merupakan siklus 40 tahunan pecahnya perang antara Hamas dan Israel. Dalam wawancaranya, Sheikh Ahmed Yassin merujuk pada perang intifada tahun 1987. Apabila tahun tersebut ditambah 40 tahun, maka akan muncul angka 2027.
“Saya katakan, insya Allah Israel akan hancur di awal abad mendatang, tepatnya pada 2027. Israel tidak akan ada lagi,” ucap Sheikh Ahmed Yassin dengan yakin.
Nostradamus, peramal dan penulis asal Prancis abad ke-16—yang oleh sebagian orang dipercaya mampu meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang secara akurat—juga pernah meramalkan nasib Israel. Dia memprediksi bahwa Israel bakal lenyap akibat perang Rusia dan Ukraina yang tak kunjung usai.
Menurut ‘terawangan’ Nostradamus, Israel juga akan menjadi sasaran serangan roket. Sebagai informasi, pada 8 Oktober 2023 Israel diserang oleh roket dari Gaza. Serangan ini menyebabkan beberapa korban jiwa dan kerusakan. Serangan ini juga memicu kekhawatiran tentang eskalasi konflik antara Israel dan Hamas.
Tentu saja tidak ada yang bisa memastikan apakah ramalan Nostradamus tentang keruntuhan Israel akan benar-benar terjadi. Namun, serangan roket ke Israel pada tanggal 8 Oktober 2023—di mana serangan jenis ini juga pernah diramalkan oleh Nostradamus—memang merupakan peristiwa yang mengerikan dan berpotensi menjadi awal dari konflik yang lebih besar.





