Beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serangan besar justru mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, Rabu, 8 April 2026. Sebanyak 89 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang berlansung sekitar 10 menit itu.
Serangan Israel menghantam kawasan komersial dan permukiman padat penduduk tanpa peringatan. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 89 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya terluka.
Menurut laporan AFP dan Al Jazeera, ledakan terjadi hampir bersamaan di berbagai titik. Asap hitam membubung tinggi, sementara ambulans berlomba menuju lokasi-lokasi yang dilalap api.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut. Dalam wawancara dengan PBS News Hour, Trump menyebut konflik Israel dengan kelompok Hezbollah sebagai “pertempuran terpisah”. “Lebanon tidak termasuk. Itu situasi berbeda,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa Hizbullah akan “diurus”.
Pernyataan ini berbeda dengan mediator dari Pakistan yang sebelumnya mengisyaratkan cakupan gencatan senjata lebih luas termasuk di Lebanon.
Militer Israel menyebut operasi ini sebagai serangan terkoordinasi terbesar dalam perang yang sedang berlangsung. Lebih dari 100 target yang diklaim terkait Hizbullah dihantam hanya dalam waktu 10 menit, mencakup Beirut, Lebanon selatan, hingga Lembah Bekaa di timur.
Situasi yang sempat tenang usai pengumuman gencatan senjata berubah drastis menjadi kepanikan massal. Warga yang sebelumnya merasa aman kembali berlarian mencari perlindungan. Banyak dari mereka adalah pengungsi internal yang sudah lebih dulu menghindari konflik.
Di jalan-jalan Beirut, suara klakson sore yang biasanya ramai berubah menjadi sirene darurat. Gedung-gedung apartemen rusak. Kendaraan hangus. Petugas pemadam kebakaran berjuang di tengah puing-puing dan kobaran api.
Serangan ini menandai eskalasi baru di kawasan, sekaligus mempertegas bahwa gencatan senjata yang diumumkan belum sepenuhnya menghentikan konflik di Timur Tengah.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, mengatakan jumlah korban tewas yang mencapai 89 orang diperkirakan akan meningkat karena masih banyak orang yang tertimbun reruntuhan. “Kebutuhan semakin meningkat, tetapi skala serangannya juga sangat besar,” kata Nassereddine.
“Kita menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan wilayah selatan.”
Menteri tersebut mengatakan bahwa serangan Israel juga menargetkan rumah sakit, pusat medis, dan ambulans.
“Pelanggaran Kedaulatan”
Komentator politik Israel Ori Goldberg menyebut serangan tersebut sebagai tindakan ilegal. “Apa yang dilakukan Israel di Lebanon jelas ilegal,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Goldberg menggambarkan operasi itu sebagai “pertunjukan kekuatan” yang sekaligus menunjukkan keputusasaan.
Ia menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini berada dalam tekanan, terutama setelah dinamika perang dengan Iran. “Netanyahu mempertaruhkan segalanya pada Trump—dan gagal. Sekarang Lebanon kembali menjadi arena pelampiasan,” katanya.
Menurut Goldberg, satu-satunya pihak yang bisa menghentikan eskalasi adalah komunitas internasional. “Pertanyaannya sekarang: apakah dunia akan bertindak, atau kembali diam?” ujarnya. ***





