Guru Besar UIN Jakarta Burhanuddin Muhtadi menilai dominasi pendekatan kuantitatif mengikis pluralisme metodologi ilmu politik. Kritik ini disampaikan saat menerima APSIPOL Award 2026.
Dominasi pendekatan kuantitatif dalam ilmu politik dinilai mempersempit ruang pengembangan metode kualitatif dan historis. Kritik itu disampaikan Guru Besar Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Burhanuddin Muhtadi.
Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam pidato akademik saat menerima APSIPOL Distinguished Political Scientist Award 2026. Penghargaan diserahkan dalam Temu Nasional Satu Dekade APSIPOL di Gedung ASEEC Tower, Universitas Airlangga, Surabaya, Senin (2/11/2026).
“Pluralisme metodologis kian tergerus karena para ilmuwan politik lebih sibuk berkutat pada urusan inferensi kausal, eksperimen, dan formal models,” kata Burhanuddin.
Gagasan Besar Tak Cukup Dijawab Angka
Untuk menegaskan pentingnya kedalaman pemikiran, Burhanuddin mengutip nasihat Guru Besar University of Washington Joel S. Migdal. Nasihat itu menekankan gagasan besar ilmu sosial tak melulu dijawab dengan angka.
Menurutnya, pertanyaan keilmuan besar lebih sering membutuhkan pendekatan historis dan kualitatif. Ia menilai saintifikasi ilmu politik yang sekadar berorientasi pada olah data bisa mengikis kedalaman substansi persoalan sosial.
Burhanuddin juga mengkritik kecenderungan ilmuwan politik yang terlalu berfokus pada fenomena berjangka pendek. “Fenomena politik tidak bisa dibidik dalam horizon waktu yang sangat sempit karena politik itu layaknya moving target,” tuturnya.
Bahaya Konsep yang Melebar
Burhanuddin mengingatkan bahaya penggeneralisasian konsep atau conceptual stretching. Praktik ini dapat mengaburkan batasan sebuah istilah penting.
Merujuk pemikiran Paul Pierson dan Giovanni Sartori, ia menegaskan konsep seperti populisme dan politik uang harus punya definisi tajam. Hanya dengan begitu, konsep itu relevan sebagai instrumen analisis.
Ia pun menawarkan siasat agar riset tetap produktif tanpa bergantung dana hibah pemerintah. Akademisi dapat menyisipkan variabel penelitian ke kuesioner survei komersial atau mendaur ulang sampel lewat double sampling.
“Ada simbiosis mutualisme di sini: kebutuhan praktis klien terpenuhi, sementara kita mendapatkan data bernilai akademis tinggi yang relevan dengan diskursus komunitas internasional,” ujar Burhanuddin.





