Kondisi Ekonomi Israel Semakin Lesu
Di sisi lain, makin lama aksi genosida Israel terhadap Palestin, ternyata makin besar pula ongkos ekonomi yang harus ditanggung Israel. Dan ini bisa berdampak besar pada masa depan mereka.
Jumlah kerugian ekonomi yang ditanggung Israel selama memerangi warga Palestina adalah USD600 juta atau Rp9.4 triliun rupiah per minggu. Itu belum termasuk kerugian akibat mundurnya buruh dari Palestina yang bekerja di Israel.
Jika perang terus berlangsung hingga 8-12 bulan ke depan, biaya perang Israel diperkirakan membengkak menjadi USD50 triliun, atau setara dengan 10 persen GDP Israel. Jumlah yang cukup untuk membuat Israel terjerat resesi.
Mengapa Israel tekor? Sebab, banyak warga Israel yang diharuskan “cuti” dari pekerjaan utamanya dan menjadi tentara untuk menginvasi Palestina. Alhasil, Israel harus menggaji orang-orang para pekerja yang cuti itu. Kendati ekonomi negara tidak jalan, para tentara dadakan itu harus tetap dibayar.
Sementara itu, kurs NIS (New Israeli Shekel) terhadap USD juga semakin melemah. Banyak investor yang menarik dananya dari Israel dan melakukan boikot terhadap negara tersebut, sehingga berdampak besar dalam nilai tukar NIS.
Secara garis besar, sebagaimana dilaporkan berbagai media internasional, ada 3 masalah besar ekonomi yang dihadapi Israel di saat ini.
Pertama, berkurangnya investasi ke Israel, yang berakibat pada melemahnya nilai tukar NIS. Mata uang Israel semakin tergerus pasca dimulainya genosida.
Kedua, melambatnya tingkat produktivitas yang disebabkan oleh mobilisasi tentara cadangan, serta tidak adanya orang Palestina yang bekerja pada ekonomi Israel. Kondisi ini mengakibatkan pelambatan ekonomi Israel.
Ketiga, berkurangnya ekspor dan impor karena boikot internasional, yang berakibat pada melambatnya tingkat konsumsi masyarakat Israel. Boikot produk Israel ternyata sangat berpengaruh bagi ekonomi domestik negara Zionis itu.
Apa yang mungkin sekali terjadi apabila ekonomi Israel terus merosot, ditambah lagi dengan kondisi politik yang tidak menentu? Kemungkinan besar akan terjadi revolusi. Banyak analisis yang mengatakan bahwa saat ini situasi di Israel menunjukkan tanda-tanda bahwa negeri Yahudi itu akan hancur.
Direktur Jenderal Liga Parlemen Al Quds (LP4Q), Mohammad Makram Balawi, dalam tulisannya di Middle East Monitor (MEMO), yang terbit pada Rabu, 22 November 2023, menyebut bahwa banyak elite Israel yang memahami hal ini. Salah satunya adalah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang kemudian menyatakan bahwa masa jabatannya adalah satu-satunya jaminan bagi keberlangsungan Israel setelah dekade kedelapan.
Menurut Balawi, ketakutan Israel ini menimbulkan tanda tanya besar. Pasalnya, Israel mendapatkan dukungan besar dari negara-negara Barat, serta memiliki hak istimewa untuk memproduksi senjata nuklir di Timur Tengah.
Ternyata, sumber kekhawatiran itu—sebagaimana ditulis Balawi—adalah perpecahan yang mulai terlihat pada masyarakat Yahudi dunia. Beberapa kelompok etnis, budaya, loyalitas, dan ideologi Yahudi yang rupanya tidak homogen—yang pada awalnya Israel berharap bakal mampu mengumpulkan mereka di bawah satu panji—rupanya tidak mampu bersatu.
“Sebaliknya, agama justru memecah-belah bangsa Israel dan bisa menyulut api perang agama internal, yang bisa membuat Israel menjadi abu,” ujar Balawi.
Selain itu, lanjut Balawi, polarisasi dan ketidakstabilan di dalam politik Israel juga menjadi ancaman besar bagi eksistensi Negeri Bintang Daud itu. Ini terlihat pada bagaimana Israel seringkali berganti PM dalam waktu singkat.
“Perilaku arogan dan mengabaikan kebenaran inilah yang akan mendorong semua pihak yang mendukung Israel meninggalkan mereka, dan lambat laun akan mengubah konflik tersebut menjadi konflik internal, akibat saling menyalahkan pihak lain atas kegagalan kronis,” tambah Balawi.
“Obsesi yang diderita bangsa Israel akan berubah menjadi kenyataan nyata akibat tindakan sembrono mereka, bukan karena kejadian supranatural,” Imbuhnya.
“Kemudian, pidato Naftali Bennett, dalam kampanye pemilu tahun 2020, di mana ia menyuarakan sentimen yang sama dan mendesak para pemilih Yahudi untuk mendukung koalisi Biru dan Putih yang ia pimpin, untuk mengatasi dekade kedelapan,” paparnya.
“Ehud Barak, mantan PM Israel, menulis untuk mengonfirmasi masalah kompleks yang sama. Kompleks ketakutan akan kelangsungan hidup. Penting untuk diingat bahwa orang-orang yang disebutkan di atas bukan sekedar rabbi yang percaya pada takhayul agama yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan, melainkan para pemimpin politik Israel.
Singkat kata, Israel saat ini sangat rentan mengalami revolusi—dan kemungkinan itu sangat besar. Jika revolusi benar-benar terjadi, maka sampailah momentum “kutukan 80 tahun” yang mereka takuti.◼︎





