Hassan Nasrallah Tewas Diserang Israel, Bagaimana Dampaknya Bagi Perjuangan Hizbullah?

Hassan Nasrallah
Tangkapan layar Hassan Nasrallah, Sekjen Hizbullah yang tewas akibat serangan Israel, Jumat (27/9/2024)) malam. Foto:Al Jazeera
Jakarta – Pemimpin tertinggi Hizbullah, Hassan Nasrallah, dilaporkan  tewas dalam sebuah serangan udara yang dilancarkan oleh Israel di Beirut, Jumat (27/9/2924) malam. Kelompok Hizbullah, yang berbasis di Lebanon, telah mengonfirmasi kabar ini. Sebelumnya, militer Israel juga telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Nasrallah, yang mencapai puncak popularitasnya setelah konflik dengan Israel pada tahun 2006, dikenal sebagai tokoh yang disanjung banyak orang, terutama di kalangan masyarakat Lebanon dan di luar negeri. Al Jazeera menyebut selama bertahun-tahun, sikapnya yang tegas menentang Israel menjadi ciri utama dirinya dan kelompok Hizbullah, yang mendapat dukungan penuh dari Iran.

Namun, peran Hizbullah mengalami pergeseran drastis ketika mereka memutuskan mengirimkan pasukan untuk membantu rezim Bashar al-Assad dalam menumpas pemberontakan di Suriah. Sejak itu, Nasrallah tidak lagi dipandang sebagai pemimpin gerakan perlawanan melawan Israel, melainkan sebagai pemimpin kelompok Syiah yang lebih mengutamakan kepentingan Iran.

Selain itu, keterlibatan Hizbullah dalam kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon, Rafik Hariri, pada tahun 2005, turut mencoreng reputasi Nasrallah di kalangan masyarakat Arab Sunni. Meski pengadilan internasional telah mendakwa dan menghukum anggota Hizbullah atas pembunuhan tersebut, Nasrallah tetap disokong oleh para pendukung setianya, terutama di kalangan Muslim Syiah di Lebanon.

Bacaan Lainnya

Lahir pada tahun 1960, Nasrallah tumbuh besar di lingkungan Beirut Timur. Ia dikenal sebagai sosok yang saleh sejak kecil, gemar membaca buku-buku Islam, dan sangat mengagumi cendekiawan Syiah Musa al-Sadr, yang kelak mendirikan Gerakan Orang-Orang Terampas. Gerakan tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya kelompok Amal, saingan Hizbullah di kemudian hari. Pada masa Perang Saudara Lebanon, Nasrallah sempat bergabung dengan milisi Amal. Namun, perpecahan terjadi ketika kelompok Amal menolak kehadiran milisi Palestina di Lebanon.

Nasrallah lalu memisahkan diri dan bersama Iran mendirikan Hizbullah pada tahun 1982, setelah invasi Israel ke Lebanon. Kelompok ini semakin kuat setelah menyusun pandangan dunia dalam dokumen pendirian pada tahun 1985 yang menyebut Ayatollah Khomeini sebagai pemimpin sejati.

Pos terkait