Pada 30 September 1960, Presiden Pertama RI, Sukarno, membabar Pancasila sebagai ideologi alternatif dunia di depan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Momen penting yang dilupakan Indonesia gegara ‘tertutup dengan sempurna’ oleh sebuah peristiwa yang oleh sejarah resmi dinarasikan sebagai Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).
Dalam forum Sidang Umum PBB saat itu, Presiden Sukarno diberi kesempatan menyampaikan pidato berjudul Membangun Dunia Kembali atau To Build The World A New.
Pidato tersebut disampaikan di tengah suasana psikologi politik dunia yang sedang dihantui rivalitas dua ideologi besar, yaitu liberalis-kapitalisme yang berhadapan dengan sosialis-komunisme. Persaingan dua ideologi hegemonik ini, menurut Sukarno, menjerumuskan banyak negara ke dalam perang saudara dan perpecahan.
Bung Karno juga menggugat hegemoni empat negara besar di muka bumi, yakni Amerika Serikat (AS), Uni Soviet, Inggris, dan Prancis, yang memiliki hak veto namun tidak dapat menentukan perang dan damai. Menurut kritik Sukarno, kekuatan negara-negara itu malah digunakan untuk merusak perdamaian.
Untuk itulah Sukarno menawarkan Pancasila sebagai ideologi untuk membangun kembali dunia yang berkecamuk.
Dikutip dari situs Kepustakaan Presiden Perpustakaan Nasional Indonesia, teks pidato Sukarno di Sidang Umum PBB itu setebal 28 halaman. Di dalam pidato tersebut dia menyinggung Pancasila sebanyak 23 kali.
Menurut Bung Karno, sapaan Sukarno, Pancasila adalah lima sendi negara yang tidak berpangkal kepada gagasan Manifesto Komunis atau Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.
Bung Karno, dalam pidato kali itu, pun mencetuskan manifesto intelektual, politik dan ideologi yang bersifat internasional: bahwa dunia harus dibangun kembali. Pembangunan dunia kembali disebabkan oleh bangkitnya kemerdekaan di negara Asia-Afrika sebagai perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.
Bung Karno menyampaikan argumentasi kenapa setiap negara perlu mengadopsi Pancasila sebagai ideologi kenegaraannya. Dia juga berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya bersifat nasional keindonesiaan, tetapi universal dan internasional. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah nilai universal, kemanusiaan universal, nasionalisme universal, demokrasi universal dan keadilan sosial universal.
Khusus nasionalisme, Bung Karno menjelaskan bahwa nilai ini universal, sebab nasionalisme dianut oleh semua negara modern.
“Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu, mungkin sudah ada sejak berabad-abad telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional,” kata Sukarno dalam pidatonya.
Pidato selengkapnya bisa ditonton di video ini:
Penjelasan Tiap Sila
Dalam pidato tersebut, Sukarno juga menjelaskan secara detail tentang kelima sila dan keterkaitannya dengan kondisi dunia saat itu.





