Pidato Penting Sukarno tentang Pancasila pada 30 September 1960 di Depan Sidang Umum PBB Selalu Diingat Dunia, tetapi Dilupakan Indonesia

Presiden Sukarno berpidato di hadapan Sidang Umum PBB pada 30 September 1960. (Tangkapan Layar Istimewa)

Dalam sila “Ketuhanan yang Maha Esa”, Presiden Sukarno menyinggung keragaman agama yang dianut bangsa Indonesia dan nilai toleransi.

Bangsa Indonesia, Sukarno menjelaskan, terdiri dari beragam pemeluk agama. Maka dari itu, kata dia, walau memeluk keyakinan yang berbeda, tetapi rakyat tetap menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai falsafah yang paling utama dalam hidup.

“Bahkan, mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun, karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima Sila pertama ini,” kata Sukarno dalam pidatonya.

Bacaan Lainnya

Dalam sila “Nasionalisme”, Sukarno menjelaskannya sebagai perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Menurut dia, nasionalisme merupakan “gerakan pembebasan”. Kekuatan dari nasionalisme Indonesia dan hasrat akan kemerdekaan mempertahankan hidup, kata Sukarno, memberi kekuatan untuk menghadapi penjajahan dan perjuangan meraih kemerdekaan.

“Dewasa ini kekuatan yang membakar itu masih tetap menyala-nyala di dada kami dan tetap memberi kekuatan hidup kepada kami!,” ucap Sukarno. “Akan tetapi nasionalisme kami sekali-kali bukanlah chauvinisme. Kami sekali-kali tidak menganggap diri kami lebih unggul dari bangsa-bangsa lain.”

Sukarno juga menyinggung nasionalisme dan perjuangan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang memerdekakan diri dari penjajahan bangsa asing. Dia juga mengkritik pandangan nasionalisme negara-negara Barat.

“Di Barat, nasionalisme berkembang sebagai kekuatan yang agresif yang mencari ekspansi serta keuntungan bagi ekonomi nasionalnya. Nasionalisme di Barat adalah kakek dari imperialisme, yang bapaknya adalah kapitalisme,” kata Sukarno.

“Di Asia dan Afrika, dan saya kira juga di Amerika Latin, nasionalisme adalah gerakan pembebasan, suatu gerakan protes terhadap imperialisme dan kolonialisme, dan suatu jawaban terhadap penindasan nasionalisme-chauvinis yang bersumber di Eropa,” lanjut Sukarno.

Sila “Internasionalisme” merupakan hal yang cukup berbeda dari bunyi Pancasila yang dikenal masyarakat Indonesia. Bung Karno menjelaskan bahwa nasionalisme dan internasionalisme tidak saling bertentangan. Menurutnya, internasionalisme merupakan pernyataan nasionalisme sejati, di mana setiap bangsa menghargai dan menjaga hak-hak semua bangsa.

“Internasionalisme yang sejati adalah tanda bahwa suatu bangsa telah menjadi dewasa dan bertanggung jawab, telah meninggalkan sifat kekanak-kanakan mengenai rasa keunggulan nasional atau rasial, telah meninggalkan penyakit kekanak-kanakan tentang chauvinisme dan kosmopolitanisme,” Sukarno menjelaskan.

“Bukankah Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu merupakan bukti yang nyata dari hal ini? Dahulu ada Liga Bangsa-Bangsa. Kini ada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Nama-nama itu sendiri menunjukan bahwa bangsa-bangsa mengingini dan membutuhkan suatu badan internasional, di mana setiap bangsa mempunyai kedudukan yang sederajat,” ucap Sukarno.

Pos terkait