Dosen Unair Soroti Konsumsi Air Pusat Data AI

Air Bersih untuk AI
Dosen Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) Yutika Amelia Effendi SKom MKom PhD. (Humas Unair)

Pendinginan pusat data AI membutuhkan air. Dosen Unair mendorong penggunaan air daur ulang dan teknologi hemat sumber daya agar kebutuhan masyarakat tetap terjaga.

Kebutuhan air untuk operasional pusat data kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian dosen Universitas Airlangga, Yutika Amelia Effendi. Ia mendorong efisiensi sejak perencanaan fasilitas.

Dosen Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan itu mengatakan server, prosesor, dan unit pemrosesan grafis menghasilkan panas saat bekerja. Pendinginan diperlukan agar sistem tetap stabil.

Menurut Yutika, dampak penggunaan air berbeda pada setiap fasilitas. Besarnya bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, serta kondisi sumber daya air setempat.

Bacaan Lainnya

“Kebutuhan dasar masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan air,” katanya, dikutip Sabtu, 24 Oktober 2026.

Tiga Jalur Penggunaan Air

Yutika menjelaskan penggunaan air terkait pusat data berlangsung melalui tiga jalur. Pertama, air dipakai langsung dalam sistem pendinginan fasilitas.

Kedua, penggunaan tidak langsung melalui pembangkitan listrik yang memasok pusat data. Ketiga, kebutuhan air dalam rantai produksi perangkat keras.

Kemampuan air menyerap panas menjadikannya pilihan untuk pendinginan. Namun, menurut Yutika, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan air daur ulang yang diolah sesuai spesifikasi teknis.

Penggunaan air yang tidak diperuntukkan untuk diminum itu dapat mengurangi ketergantungan fasilitas pada pasokan air minum.

Karena itu, kajian daya dukung lingkungan perlu dilakukan sejak perencanaan pusat data. Pemilihan lokasi harus mempertimbangkan ketersediaan air dan kebutuhan masyarakat sekitar.

Efisiensi dari Model hingga Pendinginan

Yutika menyebut penghematan dapat dimulai dari optimalisasi model komputasi. Langkah lainnya mencakup penggunaan air daur ulang dan pemilihan teknologi pendinginan.

Teknologi yang dapat dipertimbangkan meliputi pendinginan bersirkulasi tertutup serta pendinginan cair langsung ke cip.

Ia juga mendorong masyarakat menggunakan AI secara bijak. Pengendalian dampaknya membutuhkan kerja sama pemerintah, industri, dan perguruan tinggi.

“Pemerintah dapat mendorong standar efisiensi, sementara perguruan tinggi seperti UNAIR dapat berperan melalui riset lintas bidang,” kata Yutika.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan