Trump Ancam Iran, Hormuz Masih Tertutup, Beirut Diserang lagi

Presiden AS Donald Trump. ILUSTRASI AI GENERATE
Trump menekan Iran menerima proposal damai. Namun, Selat Hormuz belum pulih, Beirut kembali diserang, dan gencatan senjata tetap rapuh.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menekan Iran untuk menerima proposal penghentian perang. Ia menyatakan perang AS-Israel melawan Iran bisa berakhir jika Teheran menyetujui kesepakatan yang sedang dibahas, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

Mengutip laporan Reuters, Trump menyebut operasi militer AS bertajuk Epic Fury dapat dihentikan bila Iran mematuhi poin yang telah dibicarakan. Namun, ia juga mengancam serangan lebih besar jika Teheran menolak.

“Jika mereka tidak setuju, pengeboman dimulai,” kata Donald Trump, Presiden AS, dalam unggahan di Truth Social, Rabu, 6 Mei 2026.

Bacaan Lainnya
Proposal Belum Final

Associated Press melaporkan, belum ada kesepakatan final antara Washington dan Teheran. Proposal yang dibahas mencakup moratorium pengayaan uranium Iran, pencabutan sanksi AS, distribusi dana Iran yang dibekukan, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran menolak keras sejumlah proposal AS yang dilaporkan Axios, tetapi masih memeriksa rancangan kesepakatan terbaru. Gencatan senjata AS-Iran yang dimulai 8 April disebut masih bertahan secara rapuh.

Di saat yang sama, militer AS menembaki kapal tanker minyak Iran di Teluk Oman karena dinilai mencoba menerobos blokade pelabuhan Iran. Komando Pusat AS menyebut jet tempur menembak bagian kemudi kapal tersebut, seperti dilaporkan AP.

Hormuz Belum Normal

Selat Hormuz juga belum benar-benar pulih. AP melaporkan ratusan kapal dagang masih tertahan di Teluk Persia. Hanya dua kapal dagang berbendera AS yang diketahui melintasi jalur yang dijaga AS sejak dibuka pada Senin.

Dampak ekonomi masih terasa. Hapag-Lloyd menyebut penutupan Selat Hormuz membebani perusahaan sekitar USD60 juta per pekan. Harga minyak Brent turun ke sekitar USD100 per barel, tetapi tetap jauh di atas kisaran USD70 sebelum perang pecah.

Lebanon Jadi Titik Rawan

Retakan lain muncul dari Lebanon. Israel kembali menyerang pinggiran selatan Beirut untuk pertama kali sejak gencatan senjata dengan Hizbullah pada April. Israel menyebut serangan itu menargetkan komandan pasukan elite Radwan Hizbullah, menurut laporan Reuters.

Pos terkait