Dosen Umsura mengingatkan vape mengandung zat berbahaya yang dapat memicu kanker, gangguan kesuburan, hingga penyakit jantung dan paru.
Tren vaping yang semakin marak tidak hanya melibatkan laki-laki, tetapi juga perempuan, termasuk remaja dan ibu rumah tangga. Awal kemunculannya, vape dikenalkan sebagai produk yang lebih ramah kesehatan sehingga banyak perokok konvensional beralih menggunakannya.
Dosen Teknologi Laboratorium Medis Program Sarjana Terapan Universitas Muhammadiyah Surabaya Vella Rohmayani menyebut maraknya tren vaping justru berdampak pada kenaikan jumlah perokok di Indonesia.
“Padahal baik rokok konvensional maupun vape sebenarnya sama-sama memiliki komponen yang berbahaya bagi kesehatan. Pada rokok tembakau konvensional ditemukan kandungan karbonmonoksida, tar dan nikotin. Sedangkan pada vape memiliki beberapa komponen yaitu propylene glycol, perasa, air dan nikotin,” ujar Vella, dikutip Sabtu, 8 Agustus 2026.
Risiko Kanker dan Gangguan Organ
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2010, orang yang rutin mengonsumsi vape mempunyai risiko lebih tinggi terkena kanker. Selain itu, pengguna vape juga berisiko mengalami sejumlah masalah kesehatan lainnya.
“Yakni terjadi masalah kesuburan baik pada laki-laki maupun perempuan, masalah kecanduan dan keracunan, penyakit gagal ginjal, peningkatan risiko penyakit paru-paru dan penyakit jantung,” terang Vella.
Vella menekankan bahwa pilihan menggunakan vape sebagai terapi untuk berhenti merokok bukan menjadi pilihan yang tepat. Vape tetap dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi tubuh, sama seperti rokok konvensional.
“Oleh sebab itu, jika ingin hidup sehat, maka berhenti mengonsumsi semua produk olahan berbahan tembakau merupakan pilihan yang paling tepat. Karena rokok konvensional maupun vape sama-sama dapat memicu berbagai penyakit yang dapat membahayakan kesehatan,” pungkas Vella yang juga anggota Muhammadiyah Tobacco Control Center Umsura.***





