Harlah 100 NU Digelar Tanpa Rais Aam dan Presiden Prabowo

Harlah NU ke-100 di Istora Senayan.- SS Istimewa YouTube NU TV. 
Peringatan 100 tahun NU di Istora Senayan berlangsung tanpa Rais Aam, Sekjen PBNU, dan Presiden.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 pada Sabtu (31/1/2026) di Istora Senayan, Jakarta Pusat. Acara ini menandai satu abad NU berdasarkan kalender masehi.

Sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional hadir dalam peringatan tersebut. Di antaranya Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Menteri Agama tampak duduk berdampingan dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf di deretan depan.

Bacaan Lainnya

Sejumlah tokoh keluarga Presiden ke-4 RI juga hadir, antara lain Sinta Nuriyah Wahid bersama kedua putrinya, Yenny Wahid dan Alissa Wahid.

Rais Aam dan Sekjen PBNU Tak Tampak

Dalam pantauan di lokasi, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf tidak terlihat hadir dalam acara tersebut.

Nama Rais Aam sempat disebut oleh pembawa acara. Namun sosoknya tidak ditampilkan di layar utama panggung, dan tidak terlihat berada di jajaran petinggi NU di area kehormatan.

Ketidakhadiran dua tokoh struktural ini kembali memunculkan sorotan terhadap dinamika internal NU yang sempat menguat pasca Muktamar ke-34 NU di Lampung.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Rais Aam maupun Sekjen PBNU terkait alasan ketidakhadiran mereka.

Presiden Prabowo Batal Hadir

Presiden RI Prabowo Subianto juga batal menghadiri peringatan tersebut. Berdasarkan susunan acara, Presiden dijadwalkan memberikan arahan pada pukul 09.50 WIB.

Ketidakhadiran Presiden dikonfirmasi oleh salah satu Ketua PBNU Savil Ali.

“Satu abad NU itu cuma sekali dalam hidup. Alhamdulillah saya bisa hadir di peringatan satu abad—meski tanpa Rais Aam dan tanpa presiden,” tulis Savil Ali melalui akun Facebook pribadinya, Sabtu (31/1/2026).

Konfirmasi PBNU soal Ketidakhadiran Presiden

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menjelaskan bahwa Presiden Prabowo sebelumnya telah mengonfirmasi kehadiran. Koordinasi teknis dengan pihak kepresidenan, termasuk Paspampres dan protokol Istana, telah dilakukan sejak hari sebelumnya.

“Namun kepastian Presiden berhalangan hadir baru diketahui pada detik-detik akhir menjelang acara, karena ada agenda kenegaraan lain yang tidak bisa ditinggalkan,” kata Yahya dalam konferensi pers usai acara.

Menurut Yahya, agenda tersebut berkaitan dengan tugas negara dan kehadiran tamu-tamu kenegaraan.

Sebagai pengganti, Ketua MPR RI Ahmad Muzani hadir mewakili pemerintah dan menyampaikan sambutan dalam resepsi peringatan tersebut.

Tema dan Makna Harlah ke-100 NU

Harlah ke-100 NU mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.” Tema ini, menurut Yahya, mencerminkan visi NU yang sejalan dengan cita-cita proklamasi Indonesia.

“Visi proklamasi ini bukan hanya untuk kepentingan bangsa Indonesia, tetapi untuk seluruh umat manusia,” ujar Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 Masehi, bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah. Dengan demikian, NU berusia 100 tahun menurut kalender masehi dan 103 tahun berdasarkan kalender hijriah.

Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini didirikan oleh para ulama, di antaranya Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasbullah.***

Pos terkait