“Namun kepastian Presiden berhalangan hadir baru diketahui pada detik-detik akhir menjelang acara, karena ada agenda kenegaraan lain yang tidak bisa ditinggalkan,” kata Yahya dalam konferensi pers usai acara.
Menurut Yahya, agenda tersebut berkaitan dengan tugas negara dan kehadiran tamu-tamu kenegaraan.
Sebagai pengganti, Ketua MPR RI Ahmad Muzani hadir mewakili pemerintah dan menyampaikan sambutan dalam resepsi peringatan tersebut.
Tema dan Makna Harlah ke-100 NU
Harlah ke-100 NU mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.” Tema ini, menurut Yahya, mencerminkan visi NU yang sejalan dengan cita-cita proklamasi Indonesia.
“Visi proklamasi ini bukan hanya untuk kepentingan bangsa Indonesia, tetapi untuk seluruh umat manusia,” ujar Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 Masehi, bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah. Dengan demikian, NU berusia 100 tahun menurut kalender masehi dan 103 tahun berdasarkan kalender hijriah.
Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini didirikan oleh para ulama, di antaranya Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasbullah.***





