“Generasi Manis, Masa Depan Pahit”—Anak Muda di Bawah Bayang-Bayang Penyakit Gula

Ilustrasi | Samudrafakta

Yang lebih mengerikan, semua ini berlangsung tanpa gejala berarti di awal. Anak-anak terlihat sehat. Tapi di dalam tubuh mereka, penyakit sedang menyelinap perlahan.

Satu gelas bubble tea bisa mengandung 40 gram gula. Itu sudah melebihi batas harian anak. Tambah sepotong donat, satu botol teh kemasan, dan mungkin susu kotak di siang hari—dan jumlahnya bisa dua kali lipat dari yang direkomendasikan.

“Gula memang tidak langsung bikin sakit. Tapi dia jembatan ke banyak penyakit,” kata dr. Tan Shot Yen, dokter gizi yang lama berkampanye soal gaya hidup sehat, dalam suatu kesempatan.

Bacaan Lainnya
Siapa yang Bertanggung Jawab?

Orang tua tentu punya andil. Tapi lingkungan juga ikut membentuk. Sekolah menyediakan jajanan manis. Televisi menayangkan iklan minuman berpemanis saat anak menonton. Warung menjual teh kemasan jauh lebih murah ketimbang air mineral.

Industri pun punya peran besar. Harga ditekan semurah mungkin. Rasa dibuat semanis mungkin. Iklan dikemas semenarik mungkin. Anak-anak dibentuk jadi konsumen sejak kecil. Tak banyak regulasi yang menghalangi.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bahkan menyebut gula sebagai “produk adiktif”. Semakin dikonsumsi, semakin bikin ketagihan.

Perlu Langkah Nyata

Kementerian Kesehatan dan para ahli gizi menyerukan perlawanan. Edukasi keluarga. Kantin sehat di sekolah. Aktivitas fisik setiap hari. Pengurangan waktu layar.

Tapi itu belum cukup.

Mereka juga mendorong penerapan cukai untuk minuman manis. Jika rokok bisa dikenai pajak karena berbahaya, kenapa minuman manis tidak? Pajak bisa membuat harga naik dan konsumsi turun. Banyak negara sudah menerapkannya. Indonesia masih menimbang-nimbang.

Langkah lain adalah pelabelan gizi yang lebih jujur. Bukan sekadar angka. Tapi visual yang mudah dipahami, misalnya jumlah sendok gula dalam satu kemasan.

“Kalau masyarakat tahu berapa banyak gulanya, mereka akan mikir dua kali,” ujar dr. Piprim Yanuarso dari IDAI.

Generasi Manis, Masa Depan Pahit?

Anak-anak Indonesia tidak seharusnya menderita karena gaya hidup yang mereka warisi. Mereka berhak tumbuh sehat. Mereka berhak tahu apa yang mereka konsumsi.

Pos terkait