Di Balik Tongkat Komando Bung Karno: Kisah Ulama Tanah Abang yang Memilih Hilang dari Sejarah

​Datuk Mujib wafat di usia yang sangat sepuh, 115 tahun, pada era 1950-an. Wasiat terakhirnya sangat tegas: Jangan hias makamku. Jangan beri marmer, jangan bangun kubah. Ia sangat takut makamnya dikeramatkan dan dijadikan tempat orang meminta-minta yang berujung syirik.

​Kini, alam semesta seolah mengabulkan wasiatnya dengan cara yang tak terduga. Makam beliau di sekitar Karet Bivak perlahan tertimbun pembangunan kota, dan kini telah hilang di bawah megahnya bangunan apartemen.

​Persis seperti pesannya semasa hidup: Jika ingin mendoakannya, cukup kirimkan doa dari tempat masing-masing. Jasadnya kini telah lebur, menyatu sepenuhnya dengan tanah Jakarta yang sejarahnya ikut ia saksikan. Dari pinggiran Tanah Abang, Datuk Mujib membuktikan bahwa pahlawan besar terkadang tidak butuh namanya diukir di atas batu nisan.***

Bacaan Lainnya
Sumber:
  • Merdeka.com. (2013, 21 Agustus). Cerita Datuk Mujib, Guru Spiritual Soekarno. Diakses dari Merdeka.com.
  • Wawancara dengan Bahtinoor (Murid Datuk Mujib) dan Encing Alam (Cucu Datuk Mujib), sebagaimana dikutip dalam naskah sumber.
  • Dokumentasi Sejarah Lisan Masyarakat Tanah Abang.

Pos terkait