Di Balik Tongkat Komando Bung Karno: Kisah Ulama Tanah Abang yang Memilih Hilang dari Sejarah

Di balik tongkat komando ikonik Presiden Soekarno, tersembunyi kisah Datuk Mujib bin Sa’abah, seorang ulama Tanah Abang bersahaja yang rekam jejaknya dihilangkan dari panggung sejarah.

​Kalau kita bicara soal pesona Presiden Soekarno, salah satu benda yang paling ikonik dan tak pernah lepas darinya adalah tongkat komando. Pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana asal muasal tongkat legendaris itu?

​Di balik gagahnya sang Proklamator, ada campur tangan seorang tokoh luar biasa dari gang sempit di Tanah Abang. Namanya Datuk Mujib bin Sa’abah.

​Bukan sekadar guru spiritual biasa, Datuk Mujib adalah kawan diskusi para pendiri bangsa seperti Bung Hatta dan Sjahrir. Sayangnya, nama ulama kharismatik ini jarang sekali disebut dalam buku pelajaran sejarah kita. Padahal, rekam jejaknya—mulai dari inovasi dakwah hingga kisah mistis tongkat Bung Karno—sangatlah epik.

Bacaan Lainnya
​Berdarah Raja, Mengembara ke India

​Datuk Mujib bukanlah nama sembarangan di kalangan masyarakat Betawi lawas, khususnya di kawasan Warung Ayu, Tanah Abang. Lahir pada tahun 1870, ia sebenarnya memiliki darah keturunan Raja Bone, Sulawesi Selatan.

​Menariknya, saat ulama-ulama seangkatannya (seperti Habib Ali Kwitang) memilih pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama, Datuk Mujib yang merupakan murid Guru Khalid Gondangdia ini justru memilih rute tak biasa: menimba ilmu jauh hingga ke India. Hal ini membuatnya memiliki wawasan yang sangat luas, perpaduan antara spiritualitas yang dalam dan pemikiran intelektual yang tajam.

​Misteri Tongkat Komando dan Candaan “Jakarta”

​Kedekatan Bung Karno dengan Datuk Mujib bukan rahasia lagi di kalangan elit saat itu. Bung Karno, seringkali ditemani H. Agus Salim, bisa bertamu ke rumah Datuk Mujib di Gang Mess Dalam hingga empat kali sebulan.

​Dari sinilah legenda tongkat komando itu bermula. Menurut penuturan sang cucu, Encing Alam, tongkat yang selalu menempel di tangan Bung Karno adalah pemberian kakeknya. Bukan tongkat sembarangan, benda itu diyakini memiliki “karomah”. Kabarnya, tongkat yang sama pernah digunakan Datuk Mujib untuk mengusir tentara Belanda di Kalimalang, hingga membuat pasukan kompeni itu linglung dan malah saling serang!

​Saking dekatnya mereka berdua, Bung Karno pernah melontarkan candaan ikonik di hadapan Datuk Mujib dan dua jagoan silat Tanah Abang, Sabeni dan Rachmat.

​”Tahu nggak kepanjangan Jakarta? Jakarta itu singkatan dari Jalan Karet Tanah Abang!” seloroh Bung Karno kala itu, merujuk pada jalan yang kini dikenal sebagai Jl. KH Mas Mansyur.

​Menolak Halus Ide Soekarno dengan “Segelas Sirup”

​Meski sangat dekat dengan pusat kekuasaan, Datuk Mujib bukanlah tipe ulama yang sekadar asal bapak senang. Ia sangat memegang teguh prinsip keagamaannya.

​Suatu hari, Bung Karno memiliki ide ambisius: membuat tafsir Al-Qur’an secara bebas dalam bahasa Indonesia. Untuk memuluskan rencananya, ia mengumpulkan para ulama. Apa respons Datuk Mujib? Ia menolak dengan sangat elegan lewat sebuah perumpamaan:

​”Bayangkan segelas air putih murni,” kata Datuk Mujib. “Lalu air itu dicampur susu, sirop, dan gula. Apakah air itu masih halal diminum? Tentu. Tapi, apakah air itu masih suci dan bisa digunakan untuk menyucikan (wudu)? Jelas tidak.”

​Mendengar analogi cerdas itu, Bung Karno langsung paham. Rencana menafsirkan Al-Qur’an secara bebas pun seketika dibatalkan.

​Revolusi Maulid yang Membumi

​Di luar urusan negara, warisan terbesar Datuk Mujib untuk masyarakat awam adalah pendekatannya yang membumi. Ia sadar, tidak semua orang Betawi saat itu paham bahasa Arab.

​Maka, pada era 1940-an, ia menciptakan sebuah terobosan revolusioner: menyusun kitab Rawi Maulid dalam bahasa Indonesia namun menggunakan aksara Arab Melayu. Tujuannya sangat mulia, agar masyarakat kecil tetap bisa menangis dan menghayati kisah hidup Nabi Muhammad SAW. Hingga kini, tradisi pembacaan rawi ini masih dilestarikan oleh Ikatan Seni Betawi Tenabang (ISBAT).

​Wasiat Terakhir: Biarkan Makamku Hilang

​Sebagai sosok pembenci sorotan, Datuk Mujib menolak segala bentuk pengkultusan. Ia bahkan pernah menolak tawaran Bung Hatta untuk menjadi penghulu pernikahan anaknya dengan alasan sederhana nan merendah, “Penghulu itu pekerjaan yang nggak bener.”

​Datuk Mujib wafat di usia yang sangat sepuh, 115 tahun, pada era 1950-an. Wasiat terakhirnya sangat tegas: Jangan hias makamku. Jangan beri marmer, jangan bangun kubah. Ia sangat takut makamnya dikeramatkan dan dijadikan tempat orang meminta-minta yang berujung syirik.

​Kini, alam semesta seolah mengabulkan wasiatnya dengan cara yang tak terduga. Makam beliau di sekitar Karet Bivak perlahan tertimbun pembangunan kota, dan kini telah hilang di bawah megahnya bangunan apartemen.

​Persis seperti pesannya semasa hidup: Jika ingin mendoakannya, cukup kirimkan doa dari tempat masing-masing. Jasadnya kini telah lebur, menyatu sepenuhnya dengan tanah Jakarta yang sejarahnya ikut ia saksikan. Dari pinggiran Tanah Abang, Datuk Mujib membuktikan bahwa pahlawan besar terkadang tidak butuh namanya diukir di atas batu nisan.***

Sumber:
  • Merdeka.com. (2013, 21 Agustus). Cerita Datuk Mujib, Guru Spiritual Soekarno. Diakses dari Merdeka.com.
  • Wawancara dengan Bahtinoor (Murid Datuk Mujib) dan Encing Alam (Cucu Datuk Mujib), sebagaimana dikutip dalam naskah sumber.
  • Dokumentasi Sejarah Lisan Masyarakat Tanah Abang.

Pos terkait