
Setelah Perang Jawa berakhir, tongkat jatuh ke tangan cucu Nyi Ageng Serang—yang waktu itu merupakan komandan perempuan pasukan Diponegoro—bernama Pangeran Adipati Notoprojo. Dari Notoprojo inilah tongkat itu sampai kepada orang Belanda bernama J.C. Braud.
Tongkat Kiai Cokro memiliki panjang sekitar 1,5 meter dengan bentuk bundar di bagian ujung atasnya. Tongkat dibuat dari bahan kayu lawas. Tongkat ini selalu dibawa oleh Pangeran Diponegoro di sejumlah kegiatan spiritual dan perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Sejarawan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 menjelaskan tongkat ini dibawa Pangeran Diponegoro setiap menjalankan tirakat di Gua Secang atau Selarong.
“Dia juga membawa tongkat ziarah khusus yang telah diberikan kepadanya sekitar 1815, yang konon dibuat pada abad ke-16 untuk seorang Raja Demak,” ungkap Carey.
Masyarakat Jawa pun mempercayai bahwa Tongkat Kiai Cokro ini memiliki semacam ‘karamah’. Barang siapa yang memegangnya, diyakini bisa menjadi seorang pemimpin dalam banyak kesempatan.
Anies Baswedan pernah memegang tongkat ini dan dia terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017 – 2022. Apakah ‘karamah’ Tongkat Kiai Cokro suatu saat bakal didapatkannya, di mana dia bakal kembali mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin, setelah kalah dalam Pemilihan Presiden (Pilres) dan gagal melaju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 ini?*





