Sebuah unggahan di X memantik perdebatan yang lebih tua dari kebijakan itu sendiri—untuk apa, sesungguhnya, sebuah universitas ada?
Sabtu, 25 April 2026, Anies Baswedan menulis sesuatu yang tidak panjang, tapi menghantam tepat.
“Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang,” tulis mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu lewat akun X pribadinya.
Ia tidak menyebut nama. Tapi semua orang tahu wacana mana yang ia maksud.
Dua hari sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco melontarkan pernyataan yang langsung memantik reaksi. Dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026 di Kabupaten Badung, Bali, pada 23 April 2026, ia menyatakan bahwa program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri akan dipilah, dievaluasi, dan bila perlu ditutup.
Alasannya konkret: setiap tahun kampus meluluskan sekitar 1,9 juta orang, namun serapan kerja jauh dari sebanding. Prodi kependidikan saja mencetak 490.000 lulusan per tahun, sementara kebutuhan guru baru hanya sekitar 20.000.
Di atas kertas, logikanya masuk akal. Namun bagi Anies, masalahnya bukan pada datanya—melainkan pada cara membaca data itu.
Ilmu yang Tak Terlihat Kegunaannya—Sampai Dibutuhkan
Anies mengingatkan sebuah paradoks yang kerap luput dari meja kebijakan.
Kecerdasan buatan, internet, revolusi medis yang menyelamatkan jutaan nyawa saat pandemi—semuanya bertumpu pada fondasi yang dibangun oleh para ilmuwan yang tidak sedang memikirkan pasar. “Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap tidak berguna, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan,” tulisnya.
Relevansi sebuah ilmu tidak bisa diukur dengan cakrawala waktu yang sempit. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar berisiko terjebak sebagai pengguna belaka—mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri.
Solusinya, kata Anies, bukan menutup ilmu murni. Melainkan menjembatani dan menguatkan ekosistem riset.
PTN yang Lebih Sibuk Meraup Mahasiswa
Kekhawatiran senada, dengan nada yang lebih keras, sudah disuarakan jauh sebelum wacana Badung bergulir.





