Kolak biji salak—yang biasa disebut jenang grendul dalam tradisi Jawa—menjadi salah satu hidangan primadona saat buka puasa di bulan Ramadan. Menu ini diyakini punya banyak makna simbolik. Salah satunya diyakini berkaitan dengan kisah nabi Musa As. Kok bisa?
Hidangan dari ubi jalar yang dibentuk menyerupai biji salak ini menawarkan citarasa manis, gurih, dan tekstur kenyal yang khas. Biasanya disajikan dengan kuah santan dan gula merah, menambah kekayaan rasa dan aroma yang khas.
Cara bikin kolak biji salak juga cukup sederhana. Ubi jalar yang sudah dikukus dihaluskan, lalu dicampur tepung tapioka agar adonannya lebih kenyal. Setelah itu, adonan dibentuk bulat kecil dan direbus hingga matang.
Kuahnya dibuat dari gula merah dan santan yang direbus hingga mendidih, kemudian masukkan biji salak ke dalamnya.
Berbagai Filosofi
Tampilan kolak biji salak ini pun diyakini memiliki filosofi. Bulatan kecil-kecilnya diartikan sebagai simbol kesederhanaan. Maksudnya, hidangan ini terbuat dari bahan-bahan alami, mencerminkan kesederhanaan dan apa adanya.
Ada juga filosofi kemandirian dalam kolak ini. Semangat itu tampak dari bahan-bahannya yang mudah ditemukan, sehingga bisa dicari atau ditanam sendiri, tak perlu merepotkan orang lain.
Proses memasak kolak biji salak pun cukup lama. Perlu kesabaran dan ketelatenan. Proses ini mencerminkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup, sebelum bisa menikmati hasilnya.
Mengutip lansiran Indonesian Community Development Journal, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kolak biji salak dikenal dengan sebutan jenang grendul. Di tempat lain ada yang menyebutnya bubur candil.
Menu ini digunakan untuk kenduri atau selamatan di beberapa daerah. Di Malang, Jawa Timur, jenang grendul ini biasanya disajikan di Bulan Safar.
Dalam tradisi Jawa, jenang grendul juga dikaitkan dengan kisah Nabi Musa As, khususnya dalam peristiwa tenggelamnya Firaun dan pasukannya. Grendul atau biji salak yang mengapung dalam kuah santan-gula merah itu diibaratkan Fir’aun dan balatentaranya yang tenggelam di lautan.
Jenang grendul juga dikaitkan dengan peringatan adanya ribuan bala’ atau hari sial yang diturunkan Allah Swt. Bala tersebut disimbolkan dengan grendul.
Peristiwa bala itu diperkirakan terjadi pada bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah, sehingga masyarakat Jawa membuat jenang grendul pada bulan tersebut.





