Ijazah Sarjana Tak Laku, BLK Jadi Harapan—Begitu Kata Menteri Ketenagakerjaan

ILUSTRASI ini dibikin dengan AI | Samudrafakta

Di tengah gempuran teknologi dan gejolak industri, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai kuliah empat tahun tak lagi cukup menjawab tantangan zaman.

__________

Kuliah selama empat tahun demi meraih gelar sarjana mungkin tak lagi jadi tiket emas menuju dunia kerja. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli pun mengungkapkan fakta mencemaskan: lebih dari satu juta lulusan S1 di Indonesia kini justru menganggur.

Bacaan Lainnya

“Relevansi pendidikan tinggi semakin memudar, terutama ketika kita dihadapkan pada masa depan yang tak menentu dan perkembangan teknologi seperti AI yang begitu pesat,” ujarnya dalam Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2025, Rabu 2 Juli 2025, via Zoom.

Menurutnya, yang kini lebih dibutuhkan adalah keterampilan praktis yang langsung bisa diterapkan di dunia kerja. Pendidikan vokasi, balai latihan kerja (BLK), dan pelatihan jangka pendek jadi strategi yang mulai diandalkan Kemnaker.

Yassierli menjelaskan, Kemnaker tengah menyiapkan transformasi pelatihan berbasis proyek (project-based learning) di 41 BLK milik kementerian, serta menjangkau 303 BLK pemerintah daerah dan lebih dari 2.400 lembaga pelatihan swasta. Fokusnya adalah membentuk keterampilan yang benar-benar dibutuhkan di masa depan: dari smart operation dan kreatif digital, hingga agroforestry dan green jobs.

Green jobs, seperti pengelolaan panel surya, adalah contoh pekerjaan masa depan yang tetap relevan meskipun industri bergejolak,” katanya.

Pelatihan seperti ini juga dinilai cocok untuk generasi muda yang ingin terjun ke jalur kerja anti-mainstream seperti content creator, smart farming, dan pengembangan AI sederhana.

Fakta lainnya, Yassierli juga memaparkan bahwa jumlah total pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang. Dari jumlah itu, 1,01 juta adalah lulusan S1, 177 ribu lulusan diploma, 1,62 juta jebolan SMK, 2,03 juta lulusan SMA, serta 2,42 juta sisanya lulusan SD dan SMP.

Di tengah angka ini, pendekatan baru berbasis keahlian praktis dan pelatihan singkat dianggap sebagai solusi nyata. “Skill singkat yang tepat sasaran bisa lebih efektif daripada pendidikan panjang yang tak relevan,” pungkas Yassierli.***

Pos terkait