Wasiat Ki Anom Suroto Sebelum Berpulang: “Titip yo, Tutukno Lakune Bapakmu…”

Ki Anom Suroto. - Instagram @anomsuroto48

Bakat alam itu diasahnya dengan serius. Ia tak hanya belajar dari sang ayah, tapi juga berguru pada maestro lain seperti Ki Nartasabdo. Ia tercatat mendalami ilmu pedalangan di Himpunan Budaya Surakatya (HBS), Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta, hingga Habiranda di Yogyakarta.

Debut siaran pertamanya mengudara di Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1968. Sejak itu, kariernya tak terbendung. Kiprahnya membawanya ke Keraton Kasunanan Surakarta sebagai abdi dalem Penewu Anon-anon, dengan gelar Mas Ngabehi Lebdocarito.

Ki Anom Suroto mencatatkan sejarah sebagai dalang Indonesia pertama yang pernah tampil di lima benua. Ia membawa lakon-lakon karyanya seperti Kresna Datu dan Semar Maneges ke Amerika Serikat, Jepang, Spanyol, Jerman, Australia, hingga Rusia.

Bacaan Lainnya

Sederet prestasi mengiringi perjalanannya. Dari gelar Dalang Kesayangan Pekan Wayang Indonesia VI 1993 hingga anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto. Ia juga aktif di organisasi, menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Periode 1996-2001.

Sebelum wafat, Ki Anom Suroto telah menitipkan wasiat penting. Kepada Jatmiko, ia berpesan agar anak-anaknya melanjutkan kiprahnya di dunia pedalangan dan harus selalu rukun.

“Kemarin masih sempat berkomunikasi. Intinya, (kami) disuruh melanjutkan perjalanan bapak, sama anak-anak rukun, nggak boleh ada yang berkelahi,” ungkap Jatmiko.

Pesan untuk melanjutkan warisan seni pakeliran gaya Surakarta itu juga disampaikan kepada putranya yang lain. “Dawuh-nya (perintahnya), ‘Titip yo Pras, tutukno lakune bapakmu. Pokoke kudu sing wajuh, kudu hati-hati… ojo nganti ninggal paugeran’ (Titip ya Pras, lanjutkan perjalanan bapakmu. Pokoknya harus sungguh-sungguh, harus hati-hati… jangan sampai meninggalkan aturan),” kenang sang putra.

Penampilan terakhir Ki Anom Suroto di panggung terjadi beberapa bulan lalu di Sukoharjo. Kala itu, ia tampil bertiga bersama putranya dan dalang Ki Bagong Kusudiardjo.

Selamat jalan, sang maestro pedalangan.***

Pos terkait