Warga Baduy Dibegal dan Ditolak Rumah Sakit: Luka yang Lebih Dalam dari Sekadar Bacok

Repan, remaja Baduy yang dibegal ketika berjualan madu, akhirnya mendapat layanan perawatan dari rumah sakit setelah sempat ditolak dan mengundang polemik. - Dok. Sukabumiheadline
Repan datang ke Jakarta hanya untuk menjual madu. Tapi dini hari di ibu kota berubah jadi mimpi buruk—ia dibegal, dibacok, dan saat mencari pertolongan, rumah sakit malah menolak. Alasannya sederhana tapi menyakitkan: ia tak punya KTP.

Namanya Repan, warga Baduy Dalam di pedalaman Lebak, Banten. Akhir Oktober 2025, ia menempuh perjalanan jauh ke Jakarta untuk berdagang madu, hasil alam yang biasa dibawa warga Baduy ke kota.

Namun pada Ahad dini hari, 26 Oktober 2025 sekitar pukul 03.00 WIB, empat pria bersenjata tajam menghadangnya di Jalan Pramuka, Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Tangannya dibacok. Uang Rp3 juta, sepuluh botol madu, dan satu ponsel pinjaman raib. Semua itu tercatat dalam laporan polisi bernomor LP/B/83/XI/2025/SPKT/POLSEK CEMPAKA PUTIH/POLRES METRO JAKPUS/POLDA METRO JAYA.

Bacaan Lainnya

Dengan luka terbuka di tangan kiri, Repan berjalan tertatih mencari bantuan medis.

Ditolak Karena Tak Punya KTP

Sampai di salah satu rumah sakit swasta di kawasan Cempaka Putih, ia ditolak. Alasannya: tidak membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Nama rumah sakit belum disebut dalam laporan publik, tetapi penolakan itu sudah dikonfirmasi oleh aparat dan pejabat Desa Kanekes, wilayah masyarakat Baduy.

Kisah tragis ini pertama kali dimuat oleh Kumparan dalam laporan berjudul “Kisah Pilu Repan Warga Baduy Korban Begal di Jakpus: Ditolak RS Saat Berobat” (5/11), dan langsung memantik reaksi keras dari publik dan pemerintah.

Mengapa Warga Baduy Tak Punya Identitas?

Komunitas Baduy Dalam memang hidup dengan adat yang menolak segala bentuk modernisasi—termasuk dokumen administrasi seperti KTP.

Menurut Rudi Yatmawan, Plt Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten: “Kalau tidak punya KTP, itu karena adat Baduy Dalam yang sangat ketat. Mereka tidak memakai dokumen administrasi modern, dan hal itu harus dipahami oleh semua pihak,” katanya (5/11).

Karena itu, setiap kali mereka keluar dari wilayah adat, mereka sering tersandung urusan administratif, termasuk saat mengakses layanan kesehatan.

Pos terkait